Langsung ke konten utama

Seks dan Horor dalam Film Indonesia

“Yang memesona saya sepanjang hidup adalah cara masyarakat menjadikan dunia mereka bisa dipahami” (Roland Barthes ketika menulis esai “What Criticsm”)

Perbincangan mengenai “budaya pop” dan “budaya agung” semakin hari semakin mengundang perhatian. Banyak buku dan artikel yang menulis tentang budaya-budaya telah bermunculan, salah satunya yang adalah Popular Culture in Indonesia: Fluid Identitas in Post-authoritarian Poltics karya Ariel Heryanto. Buku ini berisi tulisan yang membahas khusus kebudayaan popular di Indonesia, seperti kontes Indonesian Idol, ulasan gosip di televisi, hingga munculnya “demam” Meteor Garden di masyarakat.

Budaya pop seringkali di-versus-kan dengan budaya agung karena ada anggapan bahwa budaya pop adalah budaya rendahan yang tidak perlu di perhatikan. Padahal jika ditelisik lebih jauh budaya pop adalah budaya yang dilakukan masyarakat sehari-hari, lebih popular dan lebih mudah dilaksanakan. Pastinya budaya pop tak jauh dari namanya “budaya popular”.

Budaya agung selama ini masih disandarkan pada ideologi keagamaan dan status sosial tempo dulu (istana). Tidak dapat dipungkiri ideologi keagamaan sangatlah kuat dimana pun agama itu berada, tidak saja Islam melainkan semua agama di dunia. Pengharaman rokok, Face Book, tayangan ‘The Master’ tak lepas dari kontrol agama. Masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan wacana agama.

Masyarakat yang hidup di pulau Jawa, khususnya yang masih erat dengan kehidupan keraton Yogyakarta dan Surakarta, akan menemui pertentangan antara budaya pop dengan budaya agung. Segala tingkah polah masyarakat masih diukur dengan tingkah polah kedua kebudayaan keraton tersebut. Jika tidak sama dengan tolok ukurnya, masyarakat akan merasa bersalah dan malu.

Tema Seks dan Horor dalam Film Indonesia

Sepuluh tahun terakhir perfilman Indonesia seperti tuan di negeri sendiri. Puluhan film diproduksi dalam setahun, bahkan dalam sebulan bisa muncul tiga sampai empat film. Dekade ini merupakan dekade bangkitnya perfilman Indonesia.

Perjalanan film di Indonesia dimulai pada tahun 1950, tepatnya 30 Maret 1950. Tahun ini muncul film asli anak negeri yang berjudul Darah dan Doa dan Long March to Siliwangi karya Usmar Ismail. Yang paling menggembirakan film ini juga diproduksi oleh perusahaan film asli milik orang Indonesia (pikiranrakyat.com).

Bangkitnya film-film lokal perlu disyukuri karena hal tersebut menandakan bahwa gairah kreatifitas anak negeri mulai bangkit. Para produser dan pembuat film semakin bersemangat dalam produksi film. Pun demikian dengan masyarakat jika dahulu menonton film dibioskop hanyalah milik orang atas, sekarang orang-orang “pedalaman” pun berbondong-bondong masuk bioskop (melihat antusiasme dalam film Laskar Pelangi).

Minggu ini ada sekitar sembilan judul yang diputar di bioskop di Surabaya. Khusus film Indonesia berjumlah empat buah, yaitu Capres, Queen Bee, Virgin 2, dan Pocong Kamar Sebelah. Dua film terakhir yang tersebut diatas merupakan film berbau seks dan horor. Dari judulnya saja sudah banyak yang mafhum. Munculnya film-film bertema seks dan horor memunculkan beragam tanggapan. Ada yang pro dengan alasan bahwa munculnya film ini merupakan akibat dari mahalnya biaya produksi, dengan minimnya produksi diharapapkan akan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Tapi banyak sutradara maupun produser Indonesia akan bertanya: buat apa susah-susah jika paha dan dada saja sudah laku dijual? (Dwi Arjanto dan Fitri Oktarini (Tempo News Room).

Lain lagi yang kontra, mereka beranggapan bahwa film bergenre seperti ini akan merusak moral masyarakat. Betapa tidak jika hampir tiap bulan masyarakat digerojok film yang demikian. Bahkan tidak jarang film bertema seks dan horor dilarang diputar atau dicabut dari peredaran (contoh kasus dari film Buruan Cium Gue).

Kenapa tema-tema film ini muncul bertubi-tubi bahkan seperti tidak pernah akan habis? Pertanyaan seperti ini menarik sekali untuk diperbincangkan.

Masyarakat Indonesia sangatlah dekat dengan horor dan seks. Ketika penulis masih kecil hingga sekarang masih sering mendengar hal-hal yang berbau mistis, baik dari sumber langsung maupun tidak langsung. Waktu ngopi tidak jarang pembicaraan mengarah pada tema horor. Pembicaraan ini bisa memakan waktu berjam-jam bisa-bisa menjelang bubaran.

Dunia seks tidak juga jauh dari masyarakat Indonesia. Pada waktu kuliah besar bersama peneliti dari Belanda yang diadakan pada 25 Mei 2009, ia menceritakan fenomena relief yang ada di beberapa candi di Jawa Timur. Dari penelitiannya ia menemukan bahwa tindakan seks dilakukan sebagai pengejawentahan seseorang untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam sebuah bukunya Folklor dan Ilmu Gosip James Danandjaja juga menuliskan bagaimana ada rumah kosong di daerah Surabaya yang penghuninya adalah hantu yang cantik-cantik. Pada malam purnama hantu-hantu tersebut akan mencari pasangan dan diajak kencan. Dalam cerita tersebut seorang pelaut Amerika pernah menjadi korban hantu cantik tersebut.

Kembali ke masalah film bertema horor dan seks. Munculnya tidak serta merta tanpa alasan. Seperti yang telah saya paparkan di atas, bahwa munculnya tema ini adalah untuk menyiasati mahalnya biaya produksi sebuah film. Tentu saja mereka ingin menciptkan sebuah film dengan biasa seminimal mungkin dan mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.

Tema Seks dan Horor tahun 70 hingga 80-an

Film yang bertemakan seks dan horor bukanlah hal yang asing di mata masyarakat Indonesia. Film-film sejenis ini pernah muncul dekade 70 dan 80-an. Waktu itu dalam setahun bisa mencapat ratusan film yang sejenis. Film yang mendapatkan apresiasi tinggi adalah Inem Pelayan Seksi karya Nya Abbas, belum lagi dengan film-film yang digawangi Trio Warkop DKI.

Salah satu pakar perfilman asal Yogyakarta mengatakan bahwa adegan-adegan seks adalah bumbu untuk memancing tawa penonton. Apakah hal itu benar adanya, atau ada alasan lain yang menjadi sebab munculnya beberapa film bertemakan demikian.

Dekade 80-an Indonesia adalah salah satu kekuatan politik dan ekonom dikawasan asia. Peran Indonesia begitu diperhitungkan dalam percaturan politik dan ekonomi dunia. Pada era ini bisa dikatakan era keemasan Indonesia (orde baru). Indonesia periode ini adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Banyak mahasiswa yang berdatangan dari kawasan Asia Tenggara untuk belajar. Selain itu banyak guru dan dosen yang dikirim keluar negeri khususnya Malaysia.

Kekeuatan Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial keagamaan tidak serta merta disenangi oleh negara-negara lain. Banyak yang menginginkan Indonesia terpecah belah dan masyarakatnya miskin. Jika Indonesi bisa melanggengkan kejayaannya maka bisa dianggap berbahasa bagi negara-negara maju (Eropa Barat dan Amerika).

Sejak lama Indonesia menjadi Battle of War antara dua kekuatan besar dunia (komunis dan liberalis). Sengketa Papua adalah kasus pertama dalam perebutan wilayah (perang idealisme). Sengketa timur-timur adalah lanjutan dari kasus yang menimpa papua. Barat (dalam hal ini adalah Eropa dan Amerika) habis-habisan membantu agar Timor-Timur tidak dikuasai oleh Komunis. Jika timor-timur dikuasai oleh komunis negara-negara Barat akan terkurangi pengaruhnya di kawasan Asia Pasifik.

Periode 80-an adalah momentum orang Barat untuk memasukkan wacana-wacana liberal yang mereka miliki. Di saat ekonomi sudah mapan orang kebanyakan tidak akan berpikir kritis dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Sedikit demi sedikit orang Indonesia menerima pengaruh Barat yang berupa kebebasan dalam bermasyarakat.

Pengaruh atau perubahan wacana masyarakat dalam hal seks dan horor tidak dapat di rasakan dampaknya dalam waktu yang dekat. Tetapi setelah tiga dekade berlalu masyarakat Indonesia mulai menerima segala pengaruh tanpa pengkritisan telebih dahulu, masyarakat permisif. Dengan sering melihat adegan sensual dan anarkis masyarakat Indonesia tanpa sadar tergiring untuk ramai-ramai mengikuti kedua hal tersebut. Contoh yang paling menancap dalam pikiran penulis adalah tragedi 98, dimana banyak sekali tindakan anarkis pelaku dan yang paling menyedihkan adalah kasus perkosaan yang dialamai masyarakat etnis Tionghoa.

Film tema Seks dan Horor dekade 2000-an

Setelah sempat mengalami kemandegan periode 90-an, film bertema seks dan horor muncul lagi pada dekade 2000-an ini. Film Jelangkung Karya Rizal Mantovani adalah pendobrak film horor periode ini. Setelah ini film-film horor tampaknya menemukan momentum kebangkitan kembali. Film-film seperti bak mengulang periode sebelumnya bahkan bisa dikatan lebih berani menampilkan tubuh pemerannya. Di bawah ini penulis cuplikkan beberapa percakapan tentang film yang bertema seks:

Mau Lagi, dicekal loch. Katanya terlalu vulgar” informasi ini tersebar, muncul di sela-sela percakapan harian dua sahabat. Sedikit banyak ungkapan di atas menyiratkan penyesalan, mungkin sesal karena tak sempat menonton. Ada banyak lagi ungkapan para penggila film dalam negri. Semisal, “Udah lihat Jakarta Undercover ? Luna Maya-nya Hot. Jadi penari striptise”. Atau “Gila, Dewi Persik di Tali Pocong Perawan. Berani banget..!!!”. Mungkin juga “Tahu gak nama artis yang maen di Kawin Kontrak, itu loch yang sexy, berani buka-bukaan”.

Itulah komentar-komentar seputar dunia perfilman Indonesia. Sedikit banyak komentar-komentar itu memperlihatkan bagaimana kecenderungan konsumen film di Indonesia. Ada banyak informasi yang bisa diceritakan dari sebuah film, tapi tampilan berani nan vulgar bahkan seks sekalipun menjadi bumbu yang menarik untuk ditonton sekaligus diceritakan.

Setelah reformasi, keadaan Indonesia bisa dikatakan semakin membaik. Dunia Pers juga banyak mendapatkan kebebasan. Begitu juga dalam ranah lainnya. Di tengah arus demokrasi yang mulai berjalan dengan baik, tema film seks dan horor bukan lagi menjadi alasan untuk hiburan atau sekadar untuk tertawa bagi masyarakat melainkan juga untuk memainkan wacana ditangah konstelasi politik yang semakin memanas.

Riuhnya film tema demikian juga mengikut ke dalam kehidupan para politikus. Kehidupan keluarga dan cinta mereka benyak samanya dengan dunia perfilman. Perselingkuhan anggota DPR dengan pedangdut, PSK, bahkan ada pejabat yang “bermain” seorang Caddy pun sudah banyak di konsumsi masyarakat. Masyarakat semakin terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Masyarakat sangat mudah digiring untuk mengikuti wacana yang dilontarkan oleh politikus. Ketika para pejabat mendapatkan masalah, masyarakat tidak terlalu mengusik karena sudah ada lahan lain yang perlu diperdebatkan seperti munculnya fim ML, Basahh, Mupeng dan lain-lain.

Alasan selanjutnya adalah dengan kedekatan “emosi” antara masyarakat dengan dua hal tersebut bisa saja sebagai rasionalisasi. Dengan dekatnya masyarakat diharapkan akan mampu menarik animo masyarakat untuk datang ke bioskop. Hal ini sangatlah berhasil melihat jumlah pengunjung dalam film bertema seks dan horor.

Kedua alasan di atas merupakan rujukan terhadap produser dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat George Herbert Mead, dkk. tentang interaksi simbolik antara produser, film dan masyarakat. Interaksi simbolik ini dikembangkan atas dasar teori pragmatik. Adapun ciri tori pragmatik adalah:

  1. Relalitas pada dasarnya tidak berada di luar dunia nyata, relitas diciptakan secara kreatif pada saat bertindak.
  2. Manusia mendasarkan pengetahuannya mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti berguna.

Sang produser membuat film untuk mendapatkan keuntungan sedangkan masyarakat melihat film berdasarkan kedekatan dan kenyamanan yang dibangun sekian lama demi mendapatkan kepuasan batin. Implikasi metodologis interaksi simbolik adalah dimanfaatkannya pemahaman dengan memberikan intensitas pada peranan tokoh-tokoh, bukan status.

Menurut Ritzer (2004:270), istilah interaksi simbolik pertama kali dikemukakan oleh Blumer tahun 1937, sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan fungsionalisme struktural yang memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang melahirkan perilaku manusia, seperti norma dan rangsangan eksternal. Unit analisis interaksi simbolik adalah tindakan-tindakan, bukan person atau psike.

Dengan adanya hubungan ini Denzin memiliki harapan interaksi simbolik untuk memberikan perhatian pada budaya populer, teknologi komunikasi, dan cara-cara terknologi itu menghasilkan realitas serta menggambarkan realitas.

BUKU ACUAN

Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Bandung: Jalasutra

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultral Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Danandjaya.

Pikiranrakyat.com

MBM Tempo. Dwi Arjanto dan Fitri Oktarini (Tempo News Room)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...