Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

KOPI PELURUH SALAH PAHAM

Penulis (berkaos wana krem berkerah hitam) bersama masyarakat Adat Dayak Punan Hovongan. Kopi dalam teko selalu ada dalam setiap momen Ketika penat lagi bergelayut di otak, tiba-tiba smartphone -ku berbunyi, ada pesan yang masuk “Ngopi sek cek gak salah paham”, minum kopi dulu biar tidak salah paham . Kalimat tersebut berkali-kali diucapkan kawan-kawan baik secara langsung ketika bertemu maupun via sosial media. Seolah saling mengingatkan jauh dekatnya jarak secangkir kopi kembali merekatkan dan menghangatkan. Saya teringat tiga tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung komunitas Adat Dayak Punan Hovongan, Kapuas Hulu Kalimantan Barat, ketika kebekuan berkomunikasi akibat perbedaan bahasa, maka secangkir kopi yang telah mencairkan keadaan. Kami menuang kopi dalam gelas. Perlahan mendekatkan tepian gelas ke bibir, meniup panas airnya kemudian mencecap rasanya dalam mulut, mendiamkan sebentar lalu menelannya. Kami bersama-sama melepaskan kenikmatan ko...