“beri aku puncak
untuk mulai lagi berpijak”
soetardji calzoum bachri
“Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”.
Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas.
Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri.
Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan tulus: kegembiraan anak semua bangsa.
Lamanya masa “penyadaran” ternyata membuat lelah pikiran kita. Keadaan itu semakin memantabkan pertanyaanku “apakah hidup ini hanyalah lembaran-lembaran fantasi yang hidup subur dalam pikiran atau jangan-jangan kita sendirilah fantasi itu sehingga butuh energi yang sangat besar untuk merubah fantasi itu ke dalam realitas yang sesungguhnya?
Hey! Ini dunia manusia kawan!
Kita sebenarnya adalah “tuhan” dalam tubuh kita sendiri. Apa yang kita lakukan adalah bentuk kuasa tersebut. Maka dari itu Tuhan akan meminta tanggung jawab atas “ketuhanan” yang telah kita lakukan dalam hidup bukan tuhan-tuhan lain.
Seharusnya dengan sifat-sifat ketuhanan tersebut kita memiliki sensifitas yang tinggi terhadap manusia sekitar. Tapi, dan tidak dapat dipungkiri saking asyiknya dengan peran yang terjadi adalah megalomonia terhadap hidup. Kita berumit-rumit merumuskan masa depan. Padahal jika kita melihat sekitar kita akan malu sendiri -- kita bersyik ria dengan “kedirian” mengabaikan sekitar.
Dengan sangat rendah hati mari kita endapkan penyadaran-penyadaran yang kita miliki. Sedikit tak apa. Barangkali dengan yang sedikit itu kita akan kembali menemukan esensi mengapa kita perlu ada di dunia ini.
Pagi yang hening itu saat embun masih enggan jatuh dari pucuk-pucuk pohon aku paksakan untuk membuka mata walaupun sebenarnya ia masih memiliki hak untuk tertutup barang sebentar. sebenarnya bumi Padjadjaran ini semakin melekatkan dua kelopak mata ini. Dengan kucuran air wudlu akhirnya terbuka juga indera ini.
Setelah melakukan persiapan yang cukup dengan beberapa teman aku berangkat menuju salah satu sekolah dasar negeri di kota hujan ini. Aku namai saja Sekolah Dasar Negeri Atas Awan. Hari itu adalah awal aku beserta teman-teman melakukan pengajaran sesungguhnya.
O, iya kawan! Sebelum lebih lanjut aku terangkan terlebih dahulu sedikit profil sekolah Atas Awan. Sekolah Dasar Atas Awan ini terlatak menggantung antara puncak gunung dengan sungai. Tak heran jika hujan lebat semua warga bergetar memikirkan anak-anak dan para guru yang sedang menyabung nyawa demi mimpi-mimpi.
Gambaran gedung Sekolah Atas Awan ini sekilas mirip istana Dalai Lama yang sama-sama terletak menempel di badan gunung daerah Lhasa, Tibet. Mungkin saja ini adalah bentuk dari kedekatan manusia terhadap alam mereka atau kalau boleh mempertanyakan lagi sebenarnya inilah bentuk kekurangperhatian pemerintah terhadap nasib orang bawa. Semoga saja hal pertamalah yang terjadi.
Selain kemiripan tata letak, SD Atas Awan dan Istana Potala merupakan tempat dimana mimpi-mimpi kemerdekan, kesejahteraan, dan keadilan tumbuh dan terpupuk subur. Keduanya menjadi oase-oase bagi siapapun yang membutuhkan sisi-sisi kemanusiaan.
Sorot-sorot mata yang terlihat adalah sorot mata optimis, kukuh, bening, tulus, dan penuh kegairahan hidup. Sayangnya, semuanya itu dibangun di atas kerapuhan fisik dan jiwa.
Tak ada yang lebih pedih dari itu kawan. Logika yang kubangun melalui puluhan teori dan tumbukan kilogram buku rontok begitu saja. Setelah 66 tahun merdeka ternyata kita masih belum merdeka dari belenggu keacuhan terhadap saudara sebangsa dan setanah air. Setidaknya momen ini menuntunku kembali menyelami bangsaku, saudara sebumiku.
Masihkah kita tega mematikan senyum Imam-imam yang tersebar di nusantara ini?
Demi tegaknya merah putih di tiang bendera dan rasa kemanusiaan yang masih tersisa dalam dada aku berjanji untuk melunasi hutang-hutang itu. Janjiku tidaklah sebesar dan sekokoh janji Gadjah Mada terhadap Nusantara. Tapi, setidaknya inilah jalanku yang harus aku lewati.
Dan sungai bawah SD Atas Awan tetap mengalir seperti biasa. Deras.
(Bogor, 7 Juni 2011)
untuk mulai lagi berpijak”
soetardji calzoum bachri
“Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”.
Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas.
Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri.
Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan tulus: kegembiraan anak semua bangsa.
Lamanya masa “penyadaran” ternyata membuat lelah pikiran kita. Keadaan itu semakin memantabkan pertanyaanku “apakah hidup ini hanyalah lembaran-lembaran fantasi yang hidup subur dalam pikiran atau jangan-jangan kita sendirilah fantasi itu sehingga butuh energi yang sangat besar untuk merubah fantasi itu ke dalam realitas yang sesungguhnya?
Hey! Ini dunia manusia kawan!
Kita sebenarnya adalah “tuhan” dalam tubuh kita sendiri. Apa yang kita lakukan adalah bentuk kuasa tersebut. Maka dari itu Tuhan akan meminta tanggung jawab atas “ketuhanan” yang telah kita lakukan dalam hidup bukan tuhan-tuhan lain.
Seharusnya dengan sifat-sifat ketuhanan tersebut kita memiliki sensifitas yang tinggi terhadap manusia sekitar. Tapi, dan tidak dapat dipungkiri saking asyiknya dengan peran yang terjadi adalah megalomonia terhadap hidup. Kita berumit-rumit merumuskan masa depan. Padahal jika kita melihat sekitar kita akan malu sendiri -- kita bersyik ria dengan “kedirian” mengabaikan sekitar.
Dengan sangat rendah hati mari kita endapkan penyadaran-penyadaran yang kita miliki. Sedikit tak apa. Barangkali dengan yang sedikit itu kita akan kembali menemukan esensi mengapa kita perlu ada di dunia ini.
Pagi yang hening itu saat embun masih enggan jatuh dari pucuk-pucuk pohon aku paksakan untuk membuka mata walaupun sebenarnya ia masih memiliki hak untuk tertutup barang sebentar. sebenarnya bumi Padjadjaran ini semakin melekatkan dua kelopak mata ini. Dengan kucuran air wudlu akhirnya terbuka juga indera ini.
Setelah melakukan persiapan yang cukup dengan beberapa teman aku berangkat menuju salah satu sekolah dasar negeri di kota hujan ini. Aku namai saja Sekolah Dasar Negeri Atas Awan. Hari itu adalah awal aku beserta teman-teman melakukan pengajaran sesungguhnya.
O, iya kawan! Sebelum lebih lanjut aku terangkan terlebih dahulu sedikit profil sekolah Atas Awan. Sekolah Dasar Atas Awan ini terlatak menggantung antara puncak gunung dengan sungai. Tak heran jika hujan lebat semua warga bergetar memikirkan anak-anak dan para guru yang sedang menyabung nyawa demi mimpi-mimpi.
Gambaran gedung Sekolah Atas Awan ini sekilas mirip istana Dalai Lama yang sama-sama terletak menempel di badan gunung daerah Lhasa, Tibet. Mungkin saja ini adalah bentuk dari kedekatan manusia terhadap alam mereka atau kalau boleh mempertanyakan lagi sebenarnya inilah bentuk kekurangperhatian pemerintah terhadap nasib orang bawa. Semoga saja hal pertamalah yang terjadi.
Selain kemiripan tata letak, SD Atas Awan dan Istana Potala merupakan tempat dimana mimpi-mimpi kemerdekan, kesejahteraan, dan keadilan tumbuh dan terpupuk subur. Keduanya menjadi oase-oase bagi siapapun yang membutuhkan sisi-sisi kemanusiaan.
Sorot-sorot mata yang terlihat adalah sorot mata optimis, kukuh, bening, tulus, dan penuh kegairahan hidup. Sayangnya, semuanya itu dibangun di atas kerapuhan fisik dan jiwa.
Tak ada yang lebih pedih dari itu kawan. Logika yang kubangun melalui puluhan teori dan tumbukan kilogram buku rontok begitu saja. Setelah 66 tahun merdeka ternyata kita masih belum merdeka dari belenggu keacuhan terhadap saudara sebangsa dan setanah air. Setidaknya momen ini menuntunku kembali menyelami bangsaku, saudara sebumiku.
Masihkah kita tega mematikan senyum Imam-imam yang tersebar di nusantara ini?
Demi tegaknya merah putih di tiang bendera dan rasa kemanusiaan yang masih tersisa dalam dada aku berjanji untuk melunasi hutang-hutang itu. Janjiku tidaklah sebesar dan sekokoh janji Gadjah Mada terhadap Nusantara. Tapi, setidaknya inilah jalanku yang harus aku lewati.
Dan sungai bawah SD Atas Awan tetap mengalir seperti biasa. Deras.
(Bogor, 7 Juni 2011)
Komentar
Posting Komentar