Berdiri 27 Februari 2009
Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan.
Namanya cangkrukan, obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka.
Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asalkan kegiatannya tidak hanya kegiatan keagamaan saja tetapi yang lebih “agak muda”.
Keinginan teman-teman segera saya sampaikan kepada Ketua RT dan Ta’mir Mushola. Pada awalnya mereka tidak sepakat jika membawa nama mushola karena ditakutkan akan disalahgunakan.
Saya meyakinkan mereka bahwa dengan adanya wadah ini setidaknya mereka akan lebih aktif menghidupkan mushola. Satu lagi soal kegiatan-kegiatan keagamaan yang biasanya ditangani oleh ta’mir bisa diserahkan kepada Remush dengan bentuk dan ide-ide baru.
Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah pengajian yang melibatkan semua pemuda dan remaja desa kami. Banyak tangapan positif dari kegiatan ini. Para sesepuh dan pengurus RT sangat gembira dengan adanya kegiatan seperti ini apalagi yang mengadakan adalah remaja yang usianya masih belasan tahun.
Kegiatan selanjutnya juga tidak jauh dari yang mereka inginkan. Dalam momen tahun baru atau hari besar Islam mereka mengadakan acara nonton bareng bersama warga. Dari sinilah kami mencoba membangun kepercayaan masyarakat terhadapa apa yang dilakukan oleh para remaja. Sayangnya, kegiatan ini masih digawangi oleh ramaja laki-laki dan belum bisa melibatkan remaja perempuan.
Harapan kami Kelak dengan adanya kepercayaan masyarakat kepada kami, maka kami ingin melibatkan keseluruhan unsur masyarakat tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan, serta orang tua.
Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan.
Namanya cangkrukan, obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka.
Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asalkan kegiatannya tidak hanya kegiatan keagamaan saja tetapi yang lebih “agak muda”.
Keinginan teman-teman segera saya sampaikan kepada Ketua RT dan Ta’mir Mushola. Pada awalnya mereka tidak sepakat jika membawa nama mushola karena ditakutkan akan disalahgunakan.
Saya meyakinkan mereka bahwa dengan adanya wadah ini setidaknya mereka akan lebih aktif menghidupkan mushola. Satu lagi soal kegiatan-kegiatan keagamaan yang biasanya ditangani oleh ta’mir bisa diserahkan kepada Remush dengan bentuk dan ide-ide baru.
Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah pengajian yang melibatkan semua pemuda dan remaja desa kami. Banyak tangapan positif dari kegiatan ini. Para sesepuh dan pengurus RT sangat gembira dengan adanya kegiatan seperti ini apalagi yang mengadakan adalah remaja yang usianya masih belasan tahun.
Kegiatan selanjutnya juga tidak jauh dari yang mereka inginkan. Dalam momen tahun baru atau hari besar Islam mereka mengadakan acara nonton bareng bersama warga. Dari sinilah kami mencoba membangun kepercayaan masyarakat terhadapa apa yang dilakukan oleh para remaja. Sayangnya, kegiatan ini masih digawangi oleh ramaja laki-laki dan belum bisa melibatkan remaja perempuan.
Harapan kami Kelak dengan adanya kepercayaan masyarakat kepada kami, maka kami ingin melibatkan keseluruhan unsur masyarakat tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan, serta orang tua.
Komentar
Posting Komentar