Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

menjadi nara sumber di RRI PRO 1 Surabaya

Hari ini tepat pukul 10 siang, aku mewakili CICS (Center For Islamic and Cultural Studies) bersama mbak Hapsari dari Savi Amira menjadi pembicara di RRI PRO 1. Tema yang diangkat adalah Larangan Pengemis di Jalan Raya. Memang akhir-akhir ini banyak terlihat orang meminta-minta di jalan raya, di tempat-tempat religious, ziarah, serta yang menelusuri kampung. Menjelang Romadhan seperti lahan basah bagi mereka. Banyak penduduk desa berbondong-bondong ke kota demi profesi sebagai pengemis. Dengan hanya mengatungkan tangan dan suara agak rintih beberapa ratus rupiah akan sampai ke tangan mereka. Tanggal 12 Agustus MUI Sumenep mengeluarkan fatwa haram bagi pengemis. Fatwa ini mendapatkan dukungan dari MUI Jatim walaupun MUI Jatim tidak mengeluarkan Fatwa serupa. Hal ini ditenggarai oleh penelitian yang dilakukan oleh MUI Sumenep bahwa selama ini pengemis bukanlah karena alasan ketidakmampuan seseorang melainkan dijadikan lahan pekerjaan oleh sebagian oknum. Tahun 2008, tepatnya Kamis, 12 Ju...

Mengenal Singkat Teori Interaksionisme Simbolik (I)

Oleh Prof Dr. Riyadi Soeprapto, MS (Alm) Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931), Charles Horton Cooley (1846–1929), yang memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Sosiolog interaksionisme simbolik kontemporer lainnya adalah Herbert Blumer (1962) dan Erving Goffman (1959). Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sociological Theory (1982)[1], bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah perspektif yang bersifat sosial-psikologis yang ter...

semangat lagi buat ngerjain SKRIPSI

Alhamdulillah hari ini aku udah setengah menyelesaikan bacaan disertasi Pak Putre yang telah dibukukan. Tapi ada hal yang mengganjal di pikiranku tentang sosiologi sastra. Apa yang membedakan goldman dengan Peter L. Berger? Satu sisi aku masih dalam kegelapan menyingkap pemikiran kedua orang itu…aku harus lebih bersemangat lagi nieh… setelah ketemu pak Lis ada pencerahan sedikit, beliau ternyata memiliki buku Peter L. Berger. Semoga bisa membantuku memecahkan misteri ini

ungkapan hati hari ini

Hari ini aku kebingungan lagi, Sudah siap-siap mengerjakan skripsi, eh malah ngelantur kemana-mana Padahal mimpiku menunggu untuk aku raih…… Ya Allah berilah kekuatan dan perlindungan-Mu agar aku bisa membahagiakan ortuku.. Sudah setengah semester ini skripsiku tak tinggalkan begitu saja…. Tinggal tiga bulan lagi aku harus segera selesai…..

Seks dan Horor dalam Film Indonesia

“Yang memesona saya sepanjang hidup adalah cara masyarakat menjadikan dunia mereka bisa dipahami” (Roland Barthes ketika menulis esai “What Criticsm”) Perbincangan mengenai “budaya pop” dan “budaya agung” semakin hari semakin mengundang perhatian. Banyak buku dan artikel yang menulis tentang budaya-budaya telah bermunculan, salah satunya yang adalah Popular Culture in Indonesia: Fluid Identitas in Post-authoritarian Poltics karya Ariel Heryanto. Buku ini berisi tulisan yang membahas khusus kebudayaan popular di Indonesia, seperti kontes Indonesian Idol, ulasan gosip di televisi, hingga munculnya “demam” Meteor Garden di masyarakat. Budaya pop seringkali di-versus-kan dengan budaya agung karena ada anggapan bahwa budaya pop adalah budaya rendahan yang tidak perlu di perhatikan. Padahal jika ditelisik lebih jauh budaya pop adalah budaya yang dilakukan masyarakat sehari-hari, lebih popular dan lebih mudah dilaksanakan. Pastinya budaya pop tak jauh dari namanya “budaya po...