Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Kopi, Warung, dan Perempuan

*) Jairi Irawan BAGAIMANAKAH rasanya menikmati secangkir kopi diiringai musik Dangdut disertai keramahan pelayan warung kopi di malam yang mulai dingin? Bagi yang sering berkunjung pastinya memiliki sejuta jawab di kepalanya. Bagi anda yang belum pernah perlu sekali-kali mencobanya. Persoalan kopi tidak hanya terbatas rasa dan aroma yang dimilikinya. Kopi dan serba-serbinya boleh jadi memunculkan takwil yang beragam. Kopi dengan berbagai macam rasa yang dipesan -- manis, pahit, setengah pahit, legit -- bisa jadi merupakan gambaran nasib keseharian bagi peminumnya. Warung kopi bukanlah fenomena baru dalam masyarakat kita. Dari dahulu warung kopi telah menjadi oase masyarakat di tengah hiruk-pikuk persoalan hidup. Warung kopi seolah telah berubah menjadi area ritual yang di dalamnya mempertemukan segala bentuk dan lapisan masyarakat. Tapi, yang jadi pertanyaannya kenapa kini pelayan warung kopi adalah kebanyakan perempuan yang kecenderungan berpakaian seksi? Sosok perempuan pelayan w...

Potret Kota yang (Tidak) Ramah bagi “Siti”

*) Jairi Irawan Judul buku : Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang Penulis : F. Aziz Manna Penerbit : Diamond Cetakan : Pertama, November 2010 Tebal : 116 halaman BARANGKALI penyair adalah manusia paling jujur dalam mengekspresikan diri dan mengungkap setiap ketimpangan sosial yang terjadi—sikap yang semakin sulit ditemukan pada sosok pemimpin di negeri ini. Kejujuran ini terekam jelas lewat sajak-sajak yang dihasilkannya. Dalam istilah Goenawan Mohamad, seorang penyair senantiasa menuturkan masyarakat secara nyata. Nyata, karena semua itu telah dialaminya berdasarkan pengamatan yang ditentukan kedaulatan dirinya dalam “dunia kecil” sang penyair. Kalau boleh berasumsi, sikap jujur seorang penyair berangkat dari pergulatan dirinya yang di satu sisi seorang individualis dan di sisi lain ia bagian dari masyarakat. Semuanya terakumulasi dalam cara pandang hidup penyair atas kehidupan. Kehadiran penyair dan karyanya lebih merupakan proses pengutuhan dari suatu gejala sosial masyar...