Langsung ke konten utama

menjadi nara sumber di RRI PRO 1 Surabaya

Hari ini tepat pukul 10 siang, aku mewakili CICS (Center For Islamic and Cultural Studies) bersama mbak Hapsari dari Savi Amira menjadi pembicara di RRI PRO 1. Tema yang diangkat adalah Larangan Pengemis di Jalan Raya. Memang akhir-akhir ini banyak terlihat orang meminta-minta di jalan raya, di tempat-tempat religious, ziarah, serta yang menelusuri kampung.
Menjelang Romadhan seperti lahan basah bagi mereka. Banyak penduduk desa berbondong-bondong ke kota demi profesi sebagai pengemis. Dengan hanya mengatungkan tangan dan suara agak rintih beberapa ratus rupiah akan sampai ke tangan mereka.
Tanggal 12 Agustus MUI Sumenep mengeluarkan fatwa haram bagi pengemis. Fatwa ini mendapatkan dukungan dari MUI Jatim walaupun MUI Jatim tidak mengeluarkan Fatwa serupa. Hal ini ditenggarai oleh penelitian yang dilakukan oleh MUI Sumenep bahwa selama ini pengemis bukanlah karena alasan ketidakmampuan seseorang melainkan dijadikan lahan pekerjaan oleh sebagian oknum.
Tahun 2008, tepatnya Kamis, 12 Juni 2008 Jawa Pos telah mengorek keterangan dari seorang bos pengemis. Tentu saja tidak mudah untuk mengetahui seluk beluk seorang mafia pengemis di Surabaya. Orang ini memiliki beberapa puluh anak buah yang tersebar di seluruh Surabaya. Cukup dengan duduk manis tiap hari ia akan memeroleh penghasilan bersih 300-400 ribu rupiah. Hal inilah yang meresahkan MUI setempat hingga mengeluarkan fatwa haram.
Dua fenomena ini yang melatarbelakangi adanya dialog dengan RRI PRO 1 dengan beberapa elemen. Dari dialog ini didapatkan beberapa kesimpulan bahwa pemerintah harus berperan aktif dalam penanggulangan pengemis khususnya di kota Surabaya. Selain itu peran ulama juga diharapkan maksimal bukan hanya mengeluarkan fatwa saja.
Dalam hal ini aku agak kedodoran dalam hal wacana ini, semalam aku hanya menyiapkan pengemis dari tinjauan agama saja. Sedangkan yang dibahas seputar pengemis di jalan dan penanganannya. Okelah ini pengalaman dua kali manjadi narasumber di radio yang lumayan besar. Pertama di radio Bojonegoro dan kali ini di RRI PRO 1 Surabaya. Semoga pengalaman ini menambah jam terbangku untuk menjadi ilmuwan sosial dunia. Amiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...