Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Anak yang Berayah Hujan dan ber-Ibukan Sungai

Aku menjadi orang yang tak tau diri jika hanya mengikuti keinginan membawa mereka untuk berakrab ria dengan pena dan buku. Padahal mereka telah menjadi anak dari hujan dan sungai. Sedangkan pena dan buku ibarat saudara tiri yang belum diketahui apakah kelak benar menjadi menjadi saudara sesungguhnya ataukah malah menjadi bencana. Mata mereka berbinar tatkala hujan mulai turun bersapaan begitu ramai dengan atap seng sekolah kami. Seolah-olah mereka mendapatkan hadiah istimewa yang mereka rindukan di hari Natal dari seorang paman Santa Clause berbaju merah dan berkendara rusa berhidung merah yang kebetulan melintas di atas hutan Kalimantan, di atas sekolah kami. Hujan semakin deras dan gelagak petir juga tidak kalah hebatnya seolah-olah mengiyakan anak-anak yang sedang melayang pikirannya melihat hujan di halaman sekolah kami. Pikiran dan perasaanku beberapa saat terbang melintasi waktu ke beberapa tahun silam ketika aku sebaya mereka. Hujan selalu aku tunggu karena hujan tak p...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...

Tempat Berlabuhku Bernama Kapuas Hulu

:Tatkala pikiran dan perasaan mencoba memaknai hubbu ... Hubbu . Terlalu banyak hal yang membuatku menekuk lutut serta memeras otak dalam menuliskan refleksi ini. Barangkali dinginnya suasana bumi Cipayung yang telah membekukan otakku, mematungkan tangan dan imajinasiku sehingga yang keluar dalam tulisan ini merupakan kemiripan dari sebuah ke- mellow -an tak berdaya -- kata dan kalimat yang terungkap seperti “proses” pendinginan dari sebuah kekakuan. Hubbu , terlalu indah untuk dikatakan. 'Aku' dan 'kamu' hanyalah sebutan untuk menggambarkan bahwa kita ada. Dua kata tersebut kelak akan tersusun menjadi sebuah kata yang menunjukkan jati diri 'aku' dan 'kamu' sebenarnya. Kata yang suitable itu adalah 'kita'. Kita akan saling mengisi kekosongan karena keterbatasan kita. Di batasmu ada aku dan di batasku ada kamu. Kita satu. Hubbu , terlalu sayang untuk dicampakkan. Masih terngiang jelas dalam ingatan kita bagaimana founding father bangsa ini b...

Membaca Madura dari Serat Mortaseya

STUDI tentang Madura dalam konteksnya menghadapi modernitas begitu marak. Pelbagai buku maupun opini di surat kabar tentang hasil studi tersebut tersebar di pelosok antero negeri. Pasca jembatan Suramadu diresmikan setahun lalu, tentunya kian menjadikan pembacaan para pakar dan pemerhati Madura lebih antusias. Hal ini mengingat dampak dibukanya Suramadu berpengaruh pada kehidupan warga masyarakat di pulau garam tersebut. Betapa Madura telah disorot bahwa dirinya sedang menghadapi gempuran baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, sangat wajar bila pembangunan jembatan ini sempat mengalami tarik-menarik alot disebabkan kekhawatiran sejumlah pihak akan adanya “perubahan” dalam arti negatif bagi masyarakat Madura. Membaca Madura semestinya memposisikan diri dalam keutuhannya terhadap masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Membaca Madura haruslah mempertimbangkan ketiga hal tersebut dan tidak bisa saling meniadakannya. Sayangnya dalam membaca Madura, lebih c...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Kopi, Warung, dan Perempuan

*) Jairi Irawan BAGAIMANAKAH rasanya menikmati secangkir kopi diiringai musik Dangdut disertai keramahan pelayan warung kopi di malam yang mulai dingin? Bagi yang sering berkunjung pastinya memiliki sejuta jawab di kepalanya. Bagi anda yang belum pernah perlu sekali-kali mencobanya. Persoalan kopi tidak hanya terbatas rasa dan aroma yang dimilikinya. Kopi dan serba-serbinya boleh jadi memunculkan takwil yang beragam. Kopi dengan berbagai macam rasa yang dipesan -- manis, pahit, setengah pahit, legit -- bisa jadi merupakan gambaran nasib keseharian bagi peminumnya. Warung kopi bukanlah fenomena baru dalam masyarakat kita. Dari dahulu warung kopi telah menjadi oase masyarakat di tengah hiruk-pikuk persoalan hidup. Warung kopi seolah telah berubah menjadi area ritual yang di dalamnya mempertemukan segala bentuk dan lapisan masyarakat. Tapi, yang jadi pertanyaannya kenapa kini pelayan warung kopi adalah kebanyakan perempuan yang kecenderungan berpakaian seksi? Sosok perempuan pelayan w...

Potret Kota yang (Tidak) Ramah bagi “Siti”

*) Jairi Irawan Judul buku : Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang Penulis : F. Aziz Manna Penerbit : Diamond Cetakan : Pertama, November 2010 Tebal : 116 halaman BARANGKALI penyair adalah manusia paling jujur dalam mengekspresikan diri dan mengungkap setiap ketimpangan sosial yang terjadi—sikap yang semakin sulit ditemukan pada sosok pemimpin di negeri ini. Kejujuran ini terekam jelas lewat sajak-sajak yang dihasilkannya. Dalam istilah Goenawan Mohamad, seorang penyair senantiasa menuturkan masyarakat secara nyata. Nyata, karena semua itu telah dialaminya berdasarkan pengamatan yang ditentukan kedaulatan dirinya dalam “dunia kecil” sang penyair. Kalau boleh berasumsi, sikap jujur seorang penyair berangkat dari pergulatan dirinya yang di satu sisi seorang individualis dan di sisi lain ia bagian dari masyarakat. Semuanya terakumulasi dalam cara pandang hidup penyair atas kehidupan. Kehadiran penyair dan karyanya lebih merupakan proses pengutuhan dari suatu gejala sosial masyar...