Aku mengenalmu, dulu, tak ada yang pernah menyuruhku. Semua berjalan normal sedikit dramatis. Seringkali kita saling mengagumi walaupun tanpa pernah saling mengerti. Diam-diam aku menjadi fansmu. Pada malam terakhir menjelang perpisahan aku tak pernah sedikitpun bersedih karena aku tahu optimisku akan membawaku bertemu denganmu. Kita akan berbagi kisah tentang perjalanan pencarian jati diri. Engkau berteman dengan ombak dan aku berteman dengan kesunyian rimba dan gemericik air Sungai Kapuas. Saat-saat itulah yang membuatku bahagia. Sedikitpun kita tak pernah mengucap rindu, mungkin karena ego, entahlah tapi aku yakin rinduku sama dengan rindumu. Rasa ini mengalirkan waktu menjadi berlalu begitu cepat, yang ada besok akan bertemu denganmu. Engkau selalu ada di antara derai tawa siswaku, senyum wargaku, dan semilir angin Punan menyapaku. Kesepian selalu berubah menjadi notasi lagu-lagu masa lalu yang terdengar renyah pada saat ini. Tak perlu aku memajang gambarmu seanter...
Terkadang dari hal yang kita anggap remeh, jijik dan kotor kalau sudah diolah dan diresapi dengan hati dan jiwa yang lapang akan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Begitupun hidup. Mungkin! Selamat menikmati!