Ada satu hal
yang menarik dalam Kurikulum 2013 yaitu pola penilaian rapor siswa yang tidak
lagi menggunakan angka, melainkan melalui penilaian otentik dalam bentuk
deskriptif. Pola penilaian semacam ini diyakini dapat menilai secara utuh
seluruh kompetensi siswa (holistik) yang meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Penilaian otentik ditekankan pada apa yang dilakukan oleh peserta
didik bukan hanya apa yang diketahui oleh peserta didik.
Dapat dipastikan raport yang diterima peserta didik menjadi lebih tebal dari raport kurikulum sebelumnya. Sebelum kurikulum ini dicanangkan raport siswa terdiri dari angka-angka sekarang terperinci dalam bentuk kalimat-kalimat yang menerangkan “prestasi” peserta didik.
Tahun
pertama metode penilain deskriptif ini akhirnya memakan “korban” juga. Para
guru yang sebelumnya terbiasa menggunakan angka sebagai acuan harus
“berpusing-pusing” membuat kalimat-kalimat sebagai perwujudan angka-angka. Bisa
jadi bentuk kepusingan ini, selain menilai aktivitas siswa, karena juga mereka dituntut
untuk mengajar dengan cara kreatif.
Dalam satu
kesempatan saya berbincang dengan guru sekolah dasar mengenai kurikulum 2013.
Mereka membombardir saya dengan pernyataan dan pertanyaan yang cenderung berisi
keluhan.
“Pak, kalau
tiap hari (evaluasi siswa) seperti ini kapan saya mengurus keluarga. Kalau
murid satu kelas saya 20 itu bisa padahal dalam satu kelas saya harus mengajar
40 siswa, lho. Belum lagi kami harus menyiapkan pembelajaran yang
berbeda-beda!”
“lho bu,
bukannya para guru sudah dilatih oleh para pendamping guru?” tanyaku sedikit
selidik.
“sudah pak,
baru sekali. Sedang pelatih saya tanyakan lebih lanjut juga kurang paham. Apalagi
yang nilaai-nilai gitu”.
Saya menangkap ada kegemesan dalam
keluhan-keluhan mereka. Mereka memiliki semangat perubahan yang luar biasa. Ada
kemauan tapi belum ditunjang oleh pengalaman dan pengetahuan tentang perubahan
yang sedang mereka jalani.
Biasanya
diakhir kalimat mereka dengan sadar mengungkapkan bahwa keunggulan kurikulum
yang sedang berlangsung ini. “sebenarnya pak, kurikulum ini membuat siswa
antusias dalam belajar. Guru-guru menjadi lebih termotivasi dengan mencari
bahan-bahan ajar yang mengasyikkan bagi siswa. Yang menjadi koreksi pribadi
adalah seharusnya kami memiliki orang-orang yang siap kami tanya ketika kami
kesulitan dalam penerapan kurikulum ini”.
Mendekatkan Guru dan Orang Tua Siswa
Sewaktu kita
sekolah dulu, kita mendapatkan raport yang tebalnya kurang lebih 12 lembar
itupun sudah termasuk petunjuk penggunaan, halaman data diri siswa, kolom
penilaian, cadangan kolom penilaian jika tidak naik kelas, dan
keterangan-keterangan di halaman belakang.
Kita masih ingat catatan-catatan yang
ada di kolom samping nilai kita. Kita akan menemui kalimat “harap dipertahankan
prestasinya” jika kita memiliki nilai rata-rata 8 atau sembilan. Sedangkan jika
kita mendapat nilai rata-rata 6 kebawah pesannya akan berupa “mohon orang tua
lebih memperhatikan belajar anaknya”.
Dua kalimat
pesan di atas bisa disimpulkan bahwa minim sekali interaksi yang terbangun
antara guru dan orang tua. Hubungan keduanya terjalin hanya dengan angka-angka
yang diperoleh peserta didik dalam pembelajaran. Mereka akan bereaksi jika
nilainya maksimal dan minimal. Kalau nilainya sedang mereka cenderung diam dan
acuh.
Bukannya
saya tidak setuju dengan penilaian berbentuk angka tetapi dalam hal
pembelajaran ini ada yang tidak tersampaikan jika penilaian hanya dalam bentuk
angka. Bagaimana dengan “nilai-nilai” diluar mata pelajaran dimana mereka
menghabiskan 5-8 jam di sekolah?
Dengan
adanya penilaian deskriptif setidaknya sebagai orang tua akan mengetahui
perkembangan anaknya di sekolah bukan hanya “nilai jadi” ditiap ulangan harian
maupun semester.
Kita tarik
lebih jauh. Harapan besar dari penilain bentuk deskriptif ini salah satunya
adalah “mendekatkan” hubungan guru, siswa, dan orang tua. Mau tidak mau, suka
atau tidak suka orang tua haruslah membaca raport anaknya. Antara orang tua dan
guru ada interaksi untuk saling mengisi hati dan jiwa anak. Saya sendiri sangat
yakin bahwa interaksi yang baik antara guru, dan orang tua akan mampu menjaga
keseimbangan anak dalam masa-masa pertumbuhan.
Jikapun pola hubungan guru-orang tua ini bferjalan dengan baik belumlah menjadi tolok ukur keberhasilan kurikulum 2013. Masih banyak yang perlu diperbaiki dan dipersiapkan lebih lanjut agar kurikulum ini berterima di masyarakat. Dalam hal ini, Anita Lie, 2012, menuliskan bahwa keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.


thank's a lot
BalasHapus