Sekitar pukul 8 pagi aku berdiri di depan Lanting (penginapan di
tepisungai). Cuaca Putussibau sungguh panas walaupun masih relative
pagi.Orang-orang semakin ramai hilir mudik di terminal air yang
bertepatan di hilirlanting yang aku tempati.
Empat hari selalu menunggu adanya orang hulu yang akan mudik dan bersedia membawaku ke daerah yang tidak pernah ada dalam bayanganku itu. Aku iri dengan kawan-kawan sepenempatan yang dijemput oleh utusan dari desa maupun kepala sekolahnya masing-masing. Mereka tertawa riang sedang aku menunggu ketidakpastian di jantung kabupaten Kapus Hulu ini.
Dan waktu itu pun tiba.
Satu dus mi instan, satu kresek merah berisi sayuran, satu sak beras 15 kilo gram, serta bawaanku dari Jakarta sudah tertata rapi di badan perahu. Kami, 7 orang harus rela berbagi tempat dengan kebutuhan perut kami. Kami harus tetap duduk stabil untuk menjaga keseimbangan perahu. Sedikit kami bergerak kekananatau kiri, air pasti masuk.
Sekitar pukul 16.00 aku tiba di Bungan Jaya. Desa ini tenang dan bisadikatakan sepi waktu itu. Beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa hampir semuapenduduk terutama laki-laki sedang nyedot (menambang emas) di hulu Sungai Bungan dan Sungai Kapuas.
Rumah nomer lima (semoga tidak keliru) cat warna putih dengan tegelwarna merah. Ya rumah itu pertama kali yang aku masuki di Bungan Jaya. Sekilas mirip rumah orang Jawa. Rumah ini dibuat memanjang dengan atap dari seng. Bahan ini lebih mudah didapat sekaligus di bawa ke Hulu Kapuas daripada genting dari tanah liat.
Rumah ini dibagi menjadi dua ruangan besar. Pertama adalah ruang tamu.Meja, kursi, tv dan lemari buffet tertata rapi di sisi kiri rumah. Sedangkansisi kanan dibiarkan kosong untuk orang-orang pekat (rapat). Kalau panen sisikanan penuh dengan bersak-sak padi. Dinding dengan cat putih itu ditambah ornament caping warna-warni hasil karya Ibu Dahai sendiri. Semakin meneguhkan rumah suku dayak sesungguhnya.
Ruang kedua adalah ruang keluarga. Di ruangan ini terdapat tiga kamar. Dua kamar berserta kamar mandi terletak di juga di sisi kanan. Itulah kamarku berserta kamar Bang Nibin, menantu Ibu. Sedang kamar Bu Dahai terletak di sisikiri ruangan. Sisa ruangan yang juga cukup luas terdapat gantungan yang sewaktu-waktu digunakan untuk membuat jala.
Bangunan kedua di belakang bangunan utama adalah ruang makan besertadapur. Satu lagi bangunan baru yang kebetulan aku ikut membantu Pak Kubek,suami Bu Dahai, yang dikhususkan untuk menanak nasi beserta membakar daginghasil buruan.
Merekalah keluarga pertamaku dan yang membantuku cepat beradaptasi didesa ini. Dari sini pula perjalanan setahun di Hulu Kapuas dimulai.
Bertukar Sayur
Tepatnya sebulan 10 hari aku menempati kamar nomor dua di ruangkeluarga. Tiap pagi dan sore Ibu dibantu anak perempuan bungsunya, ibu Nonyang.Mereka harus memasak dua macam sayuran agar aku bisa makan bersama sebelum berangkat mengajar dan sehabis maghrib.
Setelah aku berpindah kerumah dinas yang lebihdekat dengan rumahsekolah (gedung sekolah) perhatian yang aku dapat dari beliau tetaplah samaseperti semula. Seringkali ikan dan sayur hasil memancing di lubuk-lubuk mampir kerumahku via Nonyang.
“Pak Guru ini ada titipan dari nenek!”
Karena di rumahku sendiri bahan makanan tidak banyak, solusi “balas budi” adalah ikan itu aku masak dan aku kirimkan kembali ke Ibu Dahai. Walaupun ini bukan masakan terbaik, tapi aku yakin ini masakan terenak hasil usahaku.Semoga engkau suka.
Menjelang Perpisahan
Pukul 05.30 aku baru bangun setelah hampir pagi kami selesai pesta perpisahan. Barang-barang yang akan aku bawa pulang masih berserakan di sampingtas besar. Sekitar pukul 07.00 Nonyang memanggil aku dan Fard (PM angkatan 4) untuk makan bersama di rumah.
Di ruangan tengah telah tersedia makanan istimewa. Seluruh anak cucu Bu Dahai telah berkumpul melingkari makanan. Pak Kades membuka acara sebentar dilanjutkan makan bersama. Saat itu aku yakin dan membesarkan hati bahwa ini bukanlah perpisahan abadi. Suatu saat momen seperti ini akan terulang kembali,nanti.
Jangan menangis! Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri. Tak elok
untuk menangisi momen-momen special ini. Momen ini terlalu wangi jika tergerusdengan air mata. Toh foto-foto kita bu, masih ada dalam memoriku. Ini yang abadi.
BeritaDuka
Hampir Maghrib di stasiun Sudirman, 13 September 2014, ada SMS “Bang telpon sekarang ya! Ada berita penting dari Bungan!
Waktu aku telepon rupanya Arjuna anak Pak Agus, Bapak angkatku. Dia mengabarkan bahwa Ibu Dahai meninggal dunia karena tekanan darah tinggi.
Sejenak wajah ibu Dahai menyelinap diantara orang-orang turun dari komuter. Ia menyembul dan ingin berkata padaku persis seperti ketika ia menyuruhku makan waktu bersih-bersih ladang.
“Pak Guru, kuman moe (makan dulu)”
Sejam kemudian, aku menelepon Pak Acam, suara riuh sedih terdengar dari ujung telepon di sana. Mereka sedang berkumpul. Aku ucapkan mohon maaf jikater dapat kesalahan ketika pertama aku sampai hingga kini. Tiga tahun hubungan keluarga terjalin rapi walaupun jarak menjadi halangan untuk bertemu danbersapa. Kini, terlebih terpisah oleh masa.
Selamat jalan Bu Dahai, selamat bertegur sapa dengan Tuhanmu. Seperti yang pernah engkau ajarkan kepada ibu-ibu jemaat di hari Selasa dan Jumat malam. Semoga engkau damai di sisi-Nya.
Ternyata perpisahan itu akhirnya benar-benar terjadi dan abadi sebelum aku benar-benar kembali bersapa dengan situasi dimana aku benar-benar manjadi bagian keluarga besarmu seperti di masa lalu.
Empat hari selalu menunggu adanya orang hulu yang akan mudik dan bersedia membawaku ke daerah yang tidak pernah ada dalam bayanganku itu. Aku iri dengan kawan-kawan sepenempatan yang dijemput oleh utusan dari desa maupun kepala sekolahnya masing-masing. Mereka tertawa riang sedang aku menunggu ketidakpastian di jantung kabupaten Kapus Hulu ini.
Dan waktu itu pun tiba.
Satu dus mi instan, satu kresek merah berisi sayuran, satu sak beras 15 kilo gram, serta bawaanku dari Jakarta sudah tertata rapi di badan perahu. Kami, 7 orang harus rela berbagi tempat dengan kebutuhan perut kami. Kami harus tetap duduk stabil untuk menjaga keseimbangan perahu. Sedikit kami bergerak kekananatau kiri, air pasti masuk.
Sekitar pukul 16.00 aku tiba di Bungan Jaya. Desa ini tenang dan bisadikatakan sepi waktu itu. Beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa hampir semuapenduduk terutama laki-laki sedang nyedot (menambang emas) di hulu Sungai Bungan dan Sungai Kapuas.
Rumah nomer lima (semoga tidak keliru) cat warna putih dengan tegelwarna merah. Ya rumah itu pertama kali yang aku masuki di Bungan Jaya. Sekilas mirip rumah orang Jawa. Rumah ini dibuat memanjang dengan atap dari seng. Bahan ini lebih mudah didapat sekaligus di bawa ke Hulu Kapuas daripada genting dari tanah liat.
Rumah ini dibagi menjadi dua ruangan besar. Pertama adalah ruang tamu.Meja, kursi, tv dan lemari buffet tertata rapi di sisi kiri rumah. Sedangkansisi kanan dibiarkan kosong untuk orang-orang pekat (rapat). Kalau panen sisikanan penuh dengan bersak-sak padi. Dinding dengan cat putih itu ditambah ornament caping warna-warni hasil karya Ibu Dahai sendiri. Semakin meneguhkan rumah suku dayak sesungguhnya.
Ruang kedua adalah ruang keluarga. Di ruangan ini terdapat tiga kamar. Dua kamar berserta kamar mandi terletak di juga di sisi kanan. Itulah kamarku berserta kamar Bang Nibin, menantu Ibu. Sedang kamar Bu Dahai terletak di sisikiri ruangan. Sisa ruangan yang juga cukup luas terdapat gantungan yang sewaktu-waktu digunakan untuk membuat jala.
Bangunan kedua di belakang bangunan utama adalah ruang makan besertadapur. Satu lagi bangunan baru yang kebetulan aku ikut membantu Pak Kubek,suami Bu Dahai, yang dikhususkan untuk menanak nasi beserta membakar daginghasil buruan.
Merekalah keluarga pertamaku dan yang membantuku cepat beradaptasi didesa ini. Dari sini pula perjalanan setahun di Hulu Kapuas dimulai.
Bertukar Sayur
Tepatnya sebulan 10 hari aku menempati kamar nomor dua di ruangkeluarga. Tiap pagi dan sore Ibu dibantu anak perempuan bungsunya, ibu Nonyang.Mereka harus memasak dua macam sayuran agar aku bisa makan bersama sebelum berangkat mengajar dan sehabis maghrib.
Setelah aku berpindah kerumah dinas yang lebihdekat dengan rumahsekolah (gedung sekolah) perhatian yang aku dapat dari beliau tetaplah samaseperti semula. Seringkali ikan dan sayur hasil memancing di lubuk-lubuk mampir kerumahku via Nonyang.
“Pak Guru ini ada titipan dari nenek!”
Karena di rumahku sendiri bahan makanan tidak banyak, solusi “balas budi” adalah ikan itu aku masak dan aku kirimkan kembali ke Ibu Dahai. Walaupun ini bukan masakan terbaik, tapi aku yakin ini masakan terenak hasil usahaku.Semoga engkau suka.
Menjelang Perpisahan
Pukul 05.30 aku baru bangun setelah hampir pagi kami selesai pesta perpisahan. Barang-barang yang akan aku bawa pulang masih berserakan di sampingtas besar. Sekitar pukul 07.00 Nonyang memanggil aku dan Fard (PM angkatan 4) untuk makan bersama di rumah.
Di ruangan tengah telah tersedia makanan istimewa. Seluruh anak cucu Bu Dahai telah berkumpul melingkari makanan. Pak Kades membuka acara sebentar dilanjutkan makan bersama. Saat itu aku yakin dan membesarkan hati bahwa ini bukanlah perpisahan abadi. Suatu saat momen seperti ini akan terulang kembali,nanti.
Jangan menangis! Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri. Tak elok
untuk menangisi momen-momen special ini. Momen ini terlalu wangi jika tergerusdengan air mata. Toh foto-foto kita bu, masih ada dalam memoriku. Ini yang abadi.
BeritaDuka
Hampir Maghrib di stasiun Sudirman, 13 September 2014, ada SMS “Bang telpon sekarang ya! Ada berita penting dari Bungan!
Waktu aku telepon rupanya Arjuna anak Pak Agus, Bapak angkatku. Dia mengabarkan bahwa Ibu Dahai meninggal dunia karena tekanan darah tinggi.
Sejenak wajah ibu Dahai menyelinap diantara orang-orang turun dari komuter. Ia menyembul dan ingin berkata padaku persis seperti ketika ia menyuruhku makan waktu bersih-bersih ladang.
“Pak Guru, kuman moe (makan dulu)”
Sejam kemudian, aku menelepon Pak Acam, suara riuh sedih terdengar dari ujung telepon di sana. Mereka sedang berkumpul. Aku ucapkan mohon maaf jikater dapat kesalahan ketika pertama aku sampai hingga kini. Tiga tahun hubungan keluarga terjalin rapi walaupun jarak menjadi halangan untuk bertemu danbersapa. Kini, terlebih terpisah oleh masa.
Selamat jalan Bu Dahai, selamat bertegur sapa dengan Tuhanmu. Seperti yang pernah engkau ajarkan kepada ibu-ibu jemaat di hari Selasa dan Jumat malam. Semoga engkau damai di sisi-Nya.
Ternyata perpisahan itu akhirnya benar-benar terjadi dan abadi sebelum aku benar-benar kembali bersapa dengan situasi dimana aku benar-benar manjadi bagian keluarga besarmu seperti di masa lalu.
Komentar
Posting Komentar