Langsung ke konten utama

Kurikulum dan Otoritas Guru


Seorang guru muda, Erin Gruwell, gugup mengenalkan dirinya dihadapan Kepala Departemen Bahasa Inggris, Woodrow Wilson High School, Long Beach California, Amerika Serikat. Dengan idealisme tinggi ia ingin menjadi guru Bahasa Inggris bahkan ia telah membawa rencana pembelajaran yang akan diterapkan di sekolah yang terkenal kasus rasis dan perkelahian antar gank.
Kelas yang diampu oleh Erin Gruwell adalah kelas yang berisi beraneka ragam ras dan warna kulit seperti Hispanik, Asia, Afrika, dan Kulit putih. Awal-awal keberadaannya di kelas ia diacuhkan oleh siswanya. Seringkali karena salah ucap  terjadilah perselisihan dan ia ditinggal sendirian di kelas. Sebagai guru yang kebetulan berkulit putih ia juga dianggap sama dengan kulit putih lain yang sering memperlakukan kulit warna dengan tidak adil.
Gruwell mengajar dengan pola lama yaitu menerangkan lalu siswa menjawab soal-soal yang diberikan. Pola ini mendatangkan kebosanan bagi siswa apalagi tema pelajarannya sangat jauh dari kehidupan yang sesungguhnya. Mereka berpendapat bahwa saat mereka asik belajar tata bahasa di kelas saudara-saudara mereka sedang berhadapan dengan maut di luar tembok sekolah.
Gruwell sadar bahwa pelajaran Bahasa Inggris bukan hanya mengajarkan tata bahasanya saja melainkan harus menyatukan perbedaan yang ada dalam kelas. Ia mencoba berbagai permainan dalam kelas yang awalnya dianggap remeh tetapi sedikit demi sedikit mencairkan suasana permusuhan dalam kelas.
Pada suatu kesempatan Gruwell mengenalkan metode baru pengajaran yaitu dengan memberi buku harian kepada para siswa. Segala persoalan baik pribadi maupun masyarakat bisa dijadikan bahan tulisan. Hampir seluruh isi buku harian bercerita tentang keterasingan mereka di dalam masyarakat Amerika dan bayang-bayang permusuhan yang dipicu oleh warna kulit. 
Gruwell berinisiatif mendatangkan seorang saksi hidup atas tragedi Holocaust, pembantaian orang Yahudi oleh orang Nazi. Strategi ini mendatangkan efek yang luar bisa terhadap keseharian siswa. Mereka menjadi lebih peka terhadap perbedaan yang ada dalam komunitasnya. Senjata yang mereka bawa tiap hari mulai di tinggalkan. Toleransi dan suasana kekeluargaan mulai terbangun dengan sendirinya. Mereka memiliki tekad yang sama dan siap untuk menatap masa depan yang lebih baik yaitu bagaimana menciptakan kehidupan tanpa sikap menyepelekan satu sama lain.
Kreatifitas Gruwell dalam mengajar tidak lempeng-lempeng disetujui oleh stakeholder sekolah. Ia mulai tidak disukai oleh guru senior, kepala bagian hingga kepala sekolah. Untuk sekadar membagikan buku di luar program pembelajaran ia tidak diijinkan. Dengan segala kekuatan ia berusaha semaksimal mungkin agar siswa yang ia ajar memiliki semangat perubahan. Melihat perubahan siswa yang cukup positif membuat dewan sekolah bersedia sebagai penanggung jawab atas usaha Erin Gruwell.
Cerita tentang guru Gruwell dalam film Freedom Writers yang tayang pada tahun 2007 lalu ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Woodrow Wilson High School, Long Beach California, Amerika Serikat. Film ini membuka mata kita bahwa kegiatan belajar mengajar bukan hanya transfer informasi dari seorang guru terhadap siswa tetapi lebih dari itu proses belajar mengajar adalah mentransfer nilai-nilai kehidupan agar siswa tidak gagap ketika mereka berada di masyarakat yang sesungguhnya.
Kurikulum dan catatan tentangnya
Berdasar rekam jejak pendidikan kita selama pasca proklamasi negara kita telah berganti kurikulum sebanyak 11 kali mulai dari Rencana Pelajaran pada tahun 1947 hingga yang terbaru adalah kurikulum 2013 yang akan berlaku pada tahun ajaran 2013/2014. Selama pergantian kurikulum satu ke kurikulum selanjutnya yang menjadi sorotan utama adalah kesiapan guru dalam mengimplementasikannya.
Kurikulum 2013 ini banyak kalangan menilai bahwa persiapannya sangat mepet. Uji publik kurikulum hanya memiliki waktu 3 minggu, 29 November – 24 Desember 2012. Yang lebih mencengangkan lagi kurikulum ini hanya mengalokasikan waktu 6 bulan sosialisasi untuk siap dilaksanakan pada Juni yaitu memasuki tahun ajaran 2013/2014. Padahal jika menengok Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah berjalan selama 6 tahun masih banyak sekolah maupun guru yang kedodoran. 
Dengan waktu yang singkat, efektif atau tidaknya sosialisasi nanti akan sangat bergantung pada pihak yang paling berwenang, dalam hal ini pemerintah, namun juga peran para pihak yang terkait di dalamnya, termasuk guru.
Setidaknya ada empat catatan pribadi tentang guru dalam menyongsong implementasi kurikulum 2013 nanti. Catatan ini saya tangkap dari diskusi kecil antara guru, aktivis pendamping sekolah, dan pakar pendidikan, yang dilaksanakan oleh WYDII, sebuah LSM peduli pendidikan, pada 20 Desember 2012 silam. Catatan ini lebih saya tekankan pada aktivitas guru dalam “menangkap pesan” kurikulum yang sedang dan yang akan berlaku. Tanpa bermaksud merendahkan aktifitas guru tetapi lebih menyoroti guru yang secara langsung maupun tidak langsung terkena imbas dari kebijakan yang dikeluarkan oleh institusi di atasnya.
Pertama sikap apatis guru. Persaingan antar guru mata palajaran tak dapat dihindari terutama mata pelajaran ujian nasional. Guru yang “sukses” mengantarkan siswanya memeroleh nilai tinggi akan lebih mendapatkan perhatian karena dia dianggap berhasil. Jika sebaliknya ia dianggap gagal dan tidak kompeten. Persaingan ini menimbulkan efek tak mau tau terhadap mata pelajaran lain. Efek apatisme ini menjadikan pelajaran satu dengan yang lain terpisah dan berdiri sendiri. Padahal fungsi pelajaran adalah berefek langsung dengan kehidupan yang akan dijalani oleh siswa.
Kedua zona nyaman. Sejak reformasi dicetuskan pemerintah telah berusaha agar kehidupan guru lebih baik dari tahun ke tahun. Begitu banyak tunjangan di gelontorkan agar guru memiliki fokus dalam proses belajar mengajar. Bisa dikatakan tunjangan sertifikasi adalah usaha terbaru yang diusahakan oleh pemerintah. Idealnya dengan peningkatan kesejahteraan seharusnya kualitas pengajaran juga harus meningkat.
Kenyataan yang sering terjadi di lapangan berbeda. Kebanyakan guru lebih nyaman mengajarkan sesuatu yang sifatnya  pilih yang paling gampang, materi pembelajarannya, lalu membuat indikatornya dan kemudian membuat evaluasinya. Hal demikian masih mending daripada -- maaf -- yang tinggal copy-paste Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak ada kebaruan dan kreatifitas yang muncul.
Ketiga adalah pelatihan guru. Guru ideal adalah guru yang terdidik dan terlatih. Kedua kriteria ini dapat diperoleh dari seleksi yang bagus dan pelatihan terus menerus. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini para guru sangat minim dalam pelatihan. Untuk tingkat SD, Menurut Retno Listyarti Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dari 29 daerah di seluruh Indonesia yang di survei 60 persen guru SD tidak pernah ikut pelatihan. Idealnya setiap tahun setiap guru mengalokasikan 100 jam selama setahun untuk pelatihan seperti yang dilakukan oleh Singapura.
Keempat adalah manajemen perubahan. Salah satu kurangnya guru dalam bereksperimen adalah tidak adanya dukungan dari manajemen yang diterapkan oleh kepala sekolah. Diperlukan manajemen yang luwes tetapi visioner menyambut paradigm belajar abad 21 sesuai yang diharapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Paradigm belajar abad 21 menitikberatkan kepada siswa untuk memiliki semangat mencari tahu, merumuskan masalah, analitis, dan kerjasama. Siwa tidak hanya menyelesaikan (menjawab) masalah tetapi juga merumuskan masalah, dan siswa bukan hanya berfikir mekanis tetapi juga mengambil keputusan. Paradigma belajar yang tidak diimbangi dengan manajemen perubahan yang bagus juga akan sia-sia.

Otoritas Guru
Ujian Nasional setidaknya menambah beban bagi stakeholder sekolah. Mereka seperti terpasung dengan nilai-nilai minimal yang harus didapatkan siswa jika ingin lulus. Seluruh tenaga dan pikiran hanya mengejar hasil akhir dan melupakan proses-proses kreatifnya.
Guru tidak memiliki otoritas sama sekali untuk mengembangkan kemampuan terbaiknya untuk menyampaikan pembelajaran yang kreatif adukatif. Pun demikian dengan siswa mereka mati-matian belajar di sekolah, ikut bimbingan belajar, hanya untuk mengasah kemampuan kognitifnya demi menyongsong hari penentuan dalam perjalanan sekolah mereka.
Apapun kurikulumnya ujung tombak sebenarnya adalah guru yang ada di lapangan. Guru harus memiliki keberanian menginterpretasi kurikulum yang sedang berlaku. Guru memiliki hak dan otoritas tinggi untuk mengembangkan metode pembelajaran jikapun harus melenceng jauh dari “pekem-pakem” yang sudah menjadi kesepakatan dan kebiasaan. Guru dapat mengeksplorasi fenomena yang terjadi di masyarakat sekitar sekolah. Ruang kelas diperbesar artiannya dari ruang bersekat menjadi masyarakat luas. Menjadikan masyarakat sebagai objek pembelajaran akan memancing pola pikir analitis siswa. Hal semacam inilah harapan dari paradigma belajar abad 21.
Pun demikian dengan adanya dunia digital yang menawarkan kemudahan bagi guru dan siswa untuk mencari informasi. Beragam mesin pencari semacam Google, Youtube, Yahoo bahkan Facebook, dan Twitter bisa menjadi sumber kekuatan pendukung dalam kegiatan belajar mengajar. Alangkah arifnya jika berbagai macam tunjangan yang didapatkan dari pemerintah untuk tersalurkan dengan baik demi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam mengajar.
Sebagai catatan akhir, kurikulum adalah benda mati sedangkan gurulah yang hidup, menginterpretasi, dan memaknainya. Saya masih memiliki keyakinan bahwa guru yang kreatif  lebih banyak daripada yang tidak tetapi kebanyakan mereka masih terjebak pada zona nyaman. Selama guru mau menerima perubahan dan tetap menunjukkan perilaku kreatif dalam mengajar maka apapun kurikulumnya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Wallohu’alam Bishshowab[].
* Alumni Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) dan volunter di Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) di Surabaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...