![]() |
| Penulis (berkaos wana krem berkerah hitam) bersama masyarakat Adat Dayak Punan Hovongan. Kopi dalam teko selalu ada dalam setiap momen |
Ketika penat
lagi bergelayut di otak, tiba-tiba smartphone-ku berbunyi, ada
pesan yang masuk “Ngopi sek cek gak salah paham”, minum kopi dulu biar
tidak salah paham.
Kalimat tersebut
berkali-kali diucapkan kawan-kawan baik secara langsung ketika bertemu maupun
via sosial media. Seolah saling mengingatkan jauh dekatnya jarak secangkir kopi
kembali merekatkan dan menghangatkan.
Saya
teringat tiga tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung komunitas
Adat Dayak Punan Hovongan, Kapuas Hulu Kalimantan Barat, ketika kebekuan
berkomunikasi akibat perbedaan bahasa, maka secangkir kopi yang telah
mencairkan keadaan.
Kami menuang
kopi dalam gelas. Perlahan mendekatkan tepian gelas ke bibir, meniup panas
airnya kemudian mencecap rasanya dalam mulut, mendiamkan sebentar lalu
menelannya. Kami bersama-sama melepaskan kenikmatan kopi ke udara. Seperti itu
ritual kami menikmati kopi.
| Kopi dalam teko besar ketika perjamuan menjelang perpisahan penulis dan masyarakat |
Aku Jawa
mereka Dayak terikat dalam satu rasa, keakraban. Perkenalan mengalir,
kecurigaan, terkikis, kesalahpahaman jadi luruh. Aku berpikir terkadang pada
secangkir kopilah makna bisa tersampaikan ketimbang perkataan.
Tulisan
khusus untuk #DiBalikSecangkirKopi @IniBaruHidup
Twitter : @jairifull
FB : https://www.facebook.com/jairi.irawan
Twitter : @jairifull
FB : https://www.facebook.com/jairi.irawan

Komentar
Posting Komentar