Langsung ke konten utama

Kisah Anak-Anak Sungai

Bersama Nikodemus dan Terrah Fetrus di Pameran KJSA
PADA tanggal 21 September 2013 lalu di Ancol Jakarta saya bertemu lagi dengan siswa-siswa kami yang berasal dari Kalimantan barat. Mereka sedang mengikuti pameran karya yang diadakan oleh perusahaan Farmasi, Kalbe. Karya mereka menjadi satu dari sembilan terbaik dari perlombaan Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) yang dilaksanakan tiap tahun oleh perusahaan tersebut untuk mencari calon-calon ilmuwan dari seluruh pelosok Indonesia.

Nama siswa kami tersebut adalah Nikodemus dan Terrah Fetrus. Keduanya asli dari suku Dayak Punan, Sub Suku Dayak, yang tersebar di Kalimantan. Mereka tinggal di Desa Bungan Jaya, Kecamatan  Hulu Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan barat. Desa tersebut merupakan desa terujung dari Sungai Kapuas, salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia.

Niko dan Terrah tidak terlihat kalau berasal dari kampung yang berada jauh di pedalaman Kalimantan. Mereka percaya diri dan sangat menikmati ketika mempresentasikan hasil karya mereka kepada pengunjung. Mereka juga tidak segan ketika wartawan mewawancarainya. Begitu mengalir apa adanya tanpa beban. Seolah-olah kami, para guru, melihatnya ketika mereka melakukan presentasi di depan kelas ketika kami mengajar.

Para siswa SD Negeri17 Nanga Bungan, tempatku dan teman-teman Indonesia Mengajar, tidak mendapati  mereka bermimpi suatu saat akan bersanding dengan calon-calon ilmuwan dari seluruh Indonesia. Yang mereka kenal masih sekadar Putussibau, Pontianak, dan nama Kalimantan Timur (tempat kakek neneknya berasa) saja.

Hal ini bisa dimaklumi karena untuk mencapai SD tersebut kita setidaknya mengalokasikan waktu 18-20 jam perjalanan darat dari Pontianak ke Kapuas Hulu. Tidak sampai di situ kita juga memerlukan waktu 6-8 jam berperahu hingga kita benar-benar sampai pada gerbang masuk Desa Bungan Jaya tempat SD tersebut berdiri. Daerah yang cukup terisolasi dari dunia luar, tanpa sinyal, tanpa transportasi jalur darat, dan untungnya listrik tenaga mikrohidro sudah mulai beroperasi pada awal tahun ini.

Niko dan Terrah, layaknya anak Suku Punan lainnya, selesai sekolah hal yang paling disukainya adalah bermain di sungai entah sekadar berenang atau bantu orang tuanya mencari ikan untuk lauk. Sorenya akan bermain bola di halaman depan sekolah, lapangan satu-satunya yang mereka miliki. Tapi di sela-sela itu mereka menyempatkan untuk membaca buku di perpustakaan sekolah didampingi oleh para guru. Terkadang jika orang tua mereka pergi mendulang emas mereka akan ikut tidur bersama guru-guru mereka di rumah dinas yang disediakan untuk guru yang berasal dari luar daerah. Bisa dikatakan hampir 24 jam mereka dihabiskan bersama para guru.

Para guru yang ditempatkan di sana, baik dari luar maupun putra daerah, kerap tak berbeda. Mandi, mancing, bahkan ketika rujakan sering kali bersama. Saling mencela pun sudah biasa. Yang membedakan mereka adalah status saja. Pola interaksi yang dilakukan antara guru, siswa, dan orang tua adalah horizontal. Dari situlah tiga lingkaran tersebut tahu karakter, kebiasaan dan adat masyarakat di tempat tersebut.

Benar mereka belajar dari pengetahuan yang, kami, para guru bawa, tetapi kami juga belajar bagaimana mereka hidup sehari-hari dengan segala keterbatasan yang ada. Kami tahu Niko dan Terra serta anak lainnya adalah pekerja keras. Setiap libur sekolah bisa dipastikan kampung akan sangat sepi. Mereka turut orang tuanya mendulang emas di hulu sungai. Waktu rehat senang-senang adalah ketika mereka berada di sekolah bertemu dan berkumpul dengan teman-teman dan gurunya.

Kalau hanya sekadar uang dan kebutuhan jasmani alam telah memberikan segalanya. Yang bisa para guru berikan adalah mimpi dan semangat untuk terus maju. Mengeluarkan segala kemampuan dan kemauan yang mereka miliki untuk kehidupan yang lebih baik.

Kami juga masyarakat memandang  bahwa sekolah bukan untuk mendapatkan segalanya tetapi sekolah adalah bagaimana merumuskan dan mengolah yang berserak di masyarakat. Kita tahu pelajaran baca tulis hitung sudah lebih tua di masyarakat daripada di sekolah. Beratnya beras, luasnya bangunan, serta kemampuan berbahasa adalah sehari-hari kita temui dalam kehidupan bermasyarakat. Di sekolah tinggal meng-angka-kan dan menuliskannya dalam kode bilangan dan huruf. Kemudian mengembalikan angka dan huruf tersebut ke dalam permasalahan sehari-hari. Mereka tidak akan terbebani sehingga yang terjadi adalah belajar di sekolah dan masyarakat tidak parsial, terpotong-potong, dan tersekat seperti tingginya pagar tembok sekolah yang sering kita temui di kota-kota besar.

Pendidikan yang Membebaskan

Akan sangat bijak jika kita menengok kembali pemikiran yang di kemukakan oleh Paulo Freira, seorang tokoh pendidikan yang menggugat sistim pendidikan yang telah ada dan mapan di Brazil, Amerika Latin. Saking mapannya sistim pendidikan di negara tersebut melahirkan penindasan-penindasan baru oleh penguasa. Orang yang berhasil lepas atas penindasan lantas menjadi penindas baru. Sehingga orang yang tertindas akan selalu menggantungkan hidupnya kepada para penindas.

Maka alternatif yang ditawarkan oleh Paulo Freira adalah pendidikan “hadap-masalah”. Siswa sendirilah yang menjadi titik tolak dari pendidikan hadap-masalah. Siswa tidak mengada terpisah dari dunia dan realitasnya tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus dihadapkan pada nalar didik siswa supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pengajaran tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari permasalahan yang dihadapinya sehari-hari (http://www.oaseonline.org/artikel/manggeng_freire.pdf).

Sedikit menyinggung kurikulum yang sedang dijalankan oleh pemerintah sekarang tetapi saya tidak mau terjebak apakah pro dan kontra terhadap kurikulum baru tersebut. Semua pakar pendidikan versi masing-masing untuk menolak atau menerimanya. Seandainya kita menolak penerapan kurikulum 2013 lantas apa yang harus dilakukan. Begitupun sebaliknya.

Tingkat kemajuan jaman saat ini bisa dikatakan tanpa ada satupun yang bisa mencegah. Teknologi informasi dan komunikasi begitu cepat berkembang. Seorang siswa yang berada dalam kamar yang terkunci pintu dan tergembok rapat pagarpun masih bisa mengkases informasi. Jika era keterbukaan ini tidak diimbangi oleh kesiapan institusi sekola bisa jadi sekolah akan menjadi titik temu masalah-masalah negatif yang diakibatkan oleh terbukanya informasi dan komunikasi tersebut.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah baik. Saya percaya bahwa kurikulum yang didesain pemerintah dan diterapkan mulai 2006 ini mampu mengakomodasi keinginan guru dansatuan pendidikan untuk menentukan standar pengajaran dan penilaian pada masing-masing siswa. Satuan pendidikan yang satu dengan yang lain mungkin tidak sama dan itu dihalalkan oleh KTSP.

Jika KTSP lebih berpusat pada guru Kurikulum 2013 atau familiar disebut K13 ini lebih berpusat pada siswa. Kompetensi lulusan siswa berdasar dan diturunkan dari kebutuhan siswa, Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kesemuanya bermuara pada setiap lulusan yang dihasilkan adalah mampu berdiri pada dirinya sendiri. Angka dan huruf yang mereka dapatkan disekolah dapat menopang kebutuhan mereka dalam kehidupan nyata.

Siswa akan belajar berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang sedang dan akan dihadapi di masa depan. Jika berangkat dari pemahaman ini seharusnya kurikulum apapun bisa dibongkar ulang kemudian dirakit kembali oleh guru maupun tingkat satuan pendidikan karena rohnya “kebutuhan siswa” telah ditangkap oleh guru maupun institusi sekolah.

Kenapa dua anak dari pedalaman Kalimantan tersebut bisa bersaing dengan siswa yang sekolah di kota karena tidak lain yang mereka pelajari tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Hasil karya mereka berupa waterhole yaitu lubang air yang ada diperahu yang berfungsi membuang air dalam perahu secara otomatis. Sederhana tetapi memiliki nilai tambah dan berguna bagi kehidupan masyarakatnya. Jika mereka mampu pastinya anak didik kita yang memiliki fasilitas cukup bahkan lebih seharusnya dapat berbuat serupa bahkan lebih dengan fenomena-fenomena yang mereka temui dalam kehidupan.     

Saya sendiri menangkap dan yakin bahwa pemikiran Paulo Freira sejalan dengan  guru-guru kita tercinta. Saya percaya bahwa guru-guru kita akan sangat senang dan bahagia jika suatu saat anak didiknya menjadi orang sukses dan mapan dengan bertumpu pada kaki sendiri, mandiri. Sebagai insan yang peduli dengan pendidikan di republik ini marilah bersama-sama menyelami pribadi anak-anak serta siswa kita. Mereka adalah asset yang sangat berharga untuk masa depan republik ini. Akan sangat bersalah jika kita membiarkan asset ini terbengkalai karena kesombongan akan pengetahuan yang kita miliki. Mereka membutuhkan pemantik dan teman untuk berbagi dalam upaya membekali dalam menyelesaikan masalah dan problem di masa depan mereka. Toh, jika memang kurikulum yang ditawarkan oleh pemerintah tidak cocok dan sesuai di mana kita mengajar maka susunlah kurikulum yang membuat mereka sadar akan dirinya di masyarakat. Kelak mereka tidak akan terasing di masyarakat karena terlalu lama duduk di bangku sekolah.

Ini memang sulit, penuh tantangan, dan bukan pekerjaan sehari dua hari setahun dua tahun tetapi harus tetap dilakukan selama kita diberi kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Wallohu a’lam Bishshowab. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...