Langsung ke konten utama

Memajang Mimpi

Aku mengenalmu, dulu, tak ada yang pernah menyuruhku. Semua berjalan normal sedikit dramatis. Seringkali kita saling mengagumi walaupun tanpa pernah saling mengerti. Diam-diam aku menjadi fansmu.

Pada malam terakhir menjelang perpisahan aku tak pernah sedikitpun bersedih karena aku tahu optimisku akan membawaku bertemu denganmu. Kita akan berbagi kisah tentang perjalanan pencarian jati diri. Engkau berteman dengan ombak dan aku berteman dengan kesunyian rimba dan gemericik air Sungai Kapuas. 

Saat-saat itulah yang membuatku bahagia. Sedikitpun kita tak pernah mengucap rindu, mungkin karena ego, entahlah tapi aku yakin rinduku sama dengan rindumu. Rasa ini mengalirkan waktu menjadi berlalu begitu cepat, yang ada besok akan bertemu denganmu.

Engkau selalu ada di antara derai tawa siswaku, senyum wargaku, dan semilir angin Punan menyapaku. Kesepian selalu berubah menjadi notasi lagu-lagu masa lalu yang terdengar renyah pada saat ini. Tak perlu aku memajang gambarmu seantero rumahku. Toh, senyummu di Soekarno-Hatta sudah tertancap dalam hatiku yang terdalam. 

Masa-masa itu aku bingkai lalu aku pajang dalam kamar "perjalananku". Bingkai ini menjadikanmu abadi. Seperti lukisan-lukisan masa lampau. Bukan hanya diriku tetapi penerusku akan menjadi pengagummu dan mereka akan bangga menjadi bagian pernah melihat senyummu.

Suatu malam hampir sebulan aku dipenempatan kesepian menghampiri. Untuk sekadar melihat televisi dari daya Genset tak menarik. Membuat rencana pembelajaran tak ada keinginan. Segera aku ambil joran pancing dan aku berlari di pinggir sungai. Di atas perahu bersandar aku melepaskan anak pancing. Waktu semacam itulah yang membuat rinduku sedikit terobati.

Makin malam suara Genset di seberang sungai satu persatu mulai padam. Keheningan merebak. Lengkaplah sudah semua rasa ini dalam balutan malam. Sesekali suara anjing menjadi satu-satunya suara penghibur malam hari. Harapanku malam ini segera menyelesaikan pekatnya, hari berganti hari hingga aku akan pergi ke kota lagi. Menjemput suaramu.

Kejadian semacam ini berulang-ulang hingga salah satu tetangga mengingatkanku untuk tidak mengulangi hal yang sama. Menurut kepercayaan mereka bahwa kalau malam di sepanjang Sungai Kapuas ini ada hantu perempuan yang suka mengambil "barang" orang laki-laki yang suka bermain malam-malam di sungai. Apalagi sendiri.

Apa yang ada dalam benak orang terasing yang cintanya nun jauh di sana? Rindu. Ya, memang itulah yang dirasa. Gugahan rasa yang bertautan dengan keheningan malam menjadikan seseorang antara sadar dan tak sadar. Ia hanya bercakap dengan kepekatan dan bergurau dengan kesunyian. Wajahmu semakin menguat dalam pelupuk mata.






  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...