Aku mengenalmu, dulu, tak ada yang pernah menyuruhku. Semua berjalan normal sedikit dramatis. Seringkali kita saling mengagumi walaupun tanpa pernah saling mengerti. Diam-diam aku menjadi fansmu.
Suatu malam hampir sebulan aku dipenempatan kesepian menghampiri. Untuk sekadar melihat televisi dari daya Genset tak menarik. Membuat rencana pembelajaran tak ada keinginan. Segera aku ambil joran pancing dan aku berlari di pinggir sungai. Di atas perahu bersandar aku melepaskan anak pancing. Waktu semacam itulah yang membuat rinduku sedikit terobati.
Makin malam suara Genset di seberang sungai satu persatu mulai padam. Keheningan merebak. Lengkaplah sudah semua rasa ini dalam balutan malam. Sesekali suara anjing menjadi satu-satunya suara penghibur malam hari. Harapanku malam ini segera menyelesaikan pekatnya, hari berganti hari hingga aku akan pergi ke kota lagi. Menjemput suaramu.
Kejadian semacam ini berulang-ulang hingga salah satu tetangga mengingatkanku untuk tidak mengulangi hal yang sama. Menurut kepercayaan mereka bahwa kalau malam di sepanjang Sungai Kapuas ini ada hantu perempuan yang suka mengambil "barang" orang laki-laki yang suka bermain malam-malam di sungai. Apalagi sendiri.
Apa yang ada dalam benak orang terasing yang cintanya nun jauh di sana? Rindu. Ya, memang itulah yang dirasa. Gugahan rasa yang bertautan dengan keheningan malam menjadikan seseorang antara sadar dan tak sadar. Ia hanya bercakap dengan kepekatan dan bergurau dengan kesunyian. Wajahmu semakin menguat dalam pelupuk mata.
Pada malam terakhir menjelang perpisahan aku tak pernah sedikitpun bersedih karena aku tahu optimisku akan membawaku bertemu denganmu. Kita akan berbagi kisah tentang perjalanan pencarian jati diri. Engkau berteman dengan ombak dan aku berteman dengan kesunyian rimba dan gemericik air Sungai Kapuas.
Saat-saat itulah yang membuatku bahagia. Sedikitpun kita tak pernah mengucap rindu, mungkin karena ego, entahlah tapi aku yakin rinduku sama dengan rindumu. Rasa ini mengalirkan waktu menjadi berlalu begitu cepat, yang ada besok akan bertemu denganmu.
Engkau selalu ada di antara derai tawa siswaku, senyum wargaku, dan semilir angin Punan menyapaku. Kesepian selalu berubah menjadi notasi lagu-lagu masa lalu yang terdengar renyah pada saat ini. Tak perlu aku memajang gambarmu seantero rumahku. Toh, senyummu di Soekarno-Hatta sudah tertancap dalam hatiku yang terdalam.
Masa-masa itu aku bingkai lalu aku pajang dalam kamar "perjalananku". Bingkai ini menjadikanmu abadi. Seperti lukisan-lukisan masa lampau. Bukan hanya diriku tetapi penerusku akan menjadi pengagummu dan mereka akan bangga menjadi bagian pernah melihat senyummu.
Suatu malam hampir sebulan aku dipenempatan kesepian menghampiri. Untuk sekadar melihat televisi dari daya Genset tak menarik. Membuat rencana pembelajaran tak ada keinginan. Segera aku ambil joran pancing dan aku berlari di pinggir sungai. Di atas perahu bersandar aku melepaskan anak pancing. Waktu semacam itulah yang membuat rinduku sedikit terobati.
Makin malam suara Genset di seberang sungai satu persatu mulai padam. Keheningan merebak. Lengkaplah sudah semua rasa ini dalam balutan malam. Sesekali suara anjing menjadi satu-satunya suara penghibur malam hari. Harapanku malam ini segera menyelesaikan pekatnya, hari berganti hari hingga aku akan pergi ke kota lagi. Menjemput suaramu.
Kejadian semacam ini berulang-ulang hingga salah satu tetangga mengingatkanku untuk tidak mengulangi hal yang sama. Menurut kepercayaan mereka bahwa kalau malam di sepanjang Sungai Kapuas ini ada hantu perempuan yang suka mengambil "barang" orang laki-laki yang suka bermain malam-malam di sungai. Apalagi sendiri.
Apa yang ada dalam benak orang terasing yang cintanya nun jauh di sana? Rindu. Ya, memang itulah yang dirasa. Gugahan rasa yang bertautan dengan keheningan malam menjadikan seseorang antara sadar dan tak sadar. Ia hanya bercakap dengan kepekatan dan bergurau dengan kesunyian. Wajahmu semakin menguat dalam pelupuk mata.
Komentar
Posting Komentar