Judul
buku : Khutbah di Bawah
Lembah
Penulis : S. Jai
Penerbit : Najah
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Tebal : 308 halaman
Penulis : S. Jai
Penerbit : Najah
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Tebal : 308 halaman
ISBN : 978-602-191-215-7
“Orang-orang
seperti kami lebih banyak bermimpi kerena terus dicekoki mimpi, ketimbang bertindak
atas dasar kenyataan. Untuk benar-benar tahu batas mimpi dan kenyataan tidak
harus jadi orang besar, tidak harus sekolah tinggi, dan tidak harus hafal
ajaran agama. Hanya butuh keberanian saja.” (Nyonya Mendut)
ATAS, betapapun
susah dan mengerikan untuk mencapainya tetap menjadi impian
hidup yang purna. Sedangkan bawah, betapapun indah permainya tetap bukanlah
pilihan utama. Bawah hanyalah sampingan ketika suasana atas telah benar-benar suntuk.
Stagnant.
Posisi di atas akan membuat orang akan
dengan mudah memandang ke segala arah. Langit begitu dekat, kesombongan akan
mudah menyeruak. Tetapi, “atas” riskan menimbulkan kejenuhan apalagi dalam
kondisi kesendirian. Satu-satunya hiburan jika suntuk berada di atas adalah
menjadikan diri sok suci, memaki,
mengumpat, dan menertawakan segala hal yang di bawah.
Bergerak mencari patner, bersosialisasi,
menilai diri, tidak akan mudah jika selalu hidup di atas. Barangkali
satu-satunya cara adalah cepat-cepat menginjak bumi, merasakan kehidupan rakyat
bawah karena di situlah segala persoalan berkecamuk, berkembang, menjalar lalu
dengan sendirinya berangsur-angsur memola menjadi sebuah titik kesimpulan
dimana solusi dari segala permasalahan itu ditemukan. Inilah spirit hidup yang
dihamburkan berkali-kali dalam novel karya S. Jai ini.
Berkhutbah, mendorong kebaikan tidak harus selalu dari
atas mimbar yang cara mendapatkannya tidak semua orang mampu dan tahu. Apalagi
momen bulan puasa seperti ini. Tetapi mengajak ke dalam kebaikan juga dapat
dilakukan di bawah, tempat yang dianggap kotor, nista, dan tak berdaya.
Sekian banyak yang “dibawah” diantaranya
adalah persoalan rokok. Semua berawal dari meminjam idiom Taufik Ismail, Tuhan Sembilan Senti. Barang sepanjang
telunjuk jari itu telah menjadi sebab musabab
dalam perjalanan sejarah Indonesia dari bawah hingga atas, dari dulu hingga
sekarang. Dari yang sekadar mitos Roro Mendut di jaman Sultan Agung hingga
benar-benar, hingar-bingar menjadi isu nasional saat ini berupa cukai.
Sejarah cukai di Indonesia jika ditarik
ke belakang barangkali akan berhulu pada kisah Roro Mendut. Ia seorang gadis
pesisir pantai utara yang harus merelakan jiwa raganya diboyong ke pusat
kekuasaan Jawa, Mataram, oleh penakluknya Tumenggung Wiraguna. Barangkali karena
pola pikirnya seluas samudra, gairahnya yang sekuat ombak membuatnya tidak
begitu saja tunduk pada penguasa Mataram. Ia menjadi pengusik privasi
Tumenggung Wiraguna dan Sultan Agung. Sampai pada akhirnya ia terusir dari
istana.
Keterusiran itu tak membuatnya patah
arang. Toh, gelombang laut tak akan
berhenti walaupun karang kokoh menghadang. Riak-riak air malah selalu muncul
setelah gelombang datang. Maka, muncullah ide di kepala Roro Mendut untuk
membuat rokok yang lalu dijualnya dengan servis lumatan bibirnya pada klobot pembungkus
rokok tersebut, alias disedot terlebih dahulu.
Entah berawal dari gairah atas lumatan
bibir Roro Mendut ataukah benar-benar kenikmatan alami yang ditimbulkan oleh
rokok membuat Roro Mendut terkenal di kalangan masyarakat bawah Mataram.
Kemanapun dan dimanapun ia menjajakan rokok di situ pula rokok tersebut habis
ludes tak tersisa. Tak dapat dipungkiri, Sultan Agung yang merasa “tersaingi”
kepopulerannya mewajibkan Roro Mendut membayar upeti dari kegiatan menjual
rokok tersebut. Fakta ini menjadi bukti bahwa pemimpin adalah penguasa tunggal.
Walaupun semu.
Misalnya dalam bagian Inspirasi Rara Mendut hal. 112
penggunaan cukai rokok masih simpang siur karena belum adanya regulasi yang
benar-benar implikatif. Dari kesimpangsiuran inilah kemudian menimbulkan
tragedi “saling isap” antara buruh pabrik, perusahaan, dan pemerintah.
Ibaratnya lingkaran setan yang hampir mustahil untuk dilenyapkan.
Perkara cukai pun semakin ruwet.
Peraturan yang (katanya) begitu ketat tak sedikitpun menggentarkan perusahaan rokok.
Alih-alih pemerintah mampu mengontrol sebaliknya pemerintah yang dikontrol oleh
perusahaan rokok. Seperti yang dilaporkan oleh media bahwa Kediri telah
menggunakan 70 persen dana bagi hasil cukai untuk membeli peralatan pernapasan
dan obat-obatan di rumah sakit gambiran. Perkara yang belum tentu bisa
dilakukan sendiri oleh Pemerintah Kota Kediri. Dana cukai tersebut menjadi
sangat inspiratif bagi orang biasa, pengusaha, pejabat daerah dan pusat (hal.
114).
Inspirasi ini terlihat dalam
“permintaan” THR dari anggota legislatif Kota Kediri terhadap perusahaan rokok
hingga jutaan rupiah tiap anggotanya. Permintaan itu walaupun baru tercium oleh
media hal itu dapat menjadi indikasi bahwa saling isap untuk saling menguntungkan telah terjadi puluhan tahun (hal.
199).
Kemudian permasalahan rokok dan
cukainya menjadi kian komplek, berjalinkelindan dengan aspek kehidupan lainnya
terutama buruh pabriknya. Di tengah kemiskinan yang melanda, menjadi buruh
pabrik adalah satu-satunya pilihan. Menjadi buruh ibarat “menghibahkan” hidup
pada pabrik. Ia harus mau “disekolahkan” lagi jika hasil kerja kurang baik.
Finalnya adalah pemecatan jika terjadi “penyekolahan” yang berulang-ulang. Tiada
nilai tawar kecuali kepasrahan tersebut.
Bagi buruh miskin menganggur itu lebih
menakutkan daripada bekerja yang berisiko kehilangan nyawa. Tolok ukur dan
harga diri orang miskin terletak pada apakah ia bekerja atau tidak.
Walaupun susah kehidupan pun harus
tetap berjalan tanpa harus pikir panjang. Para buruh akan tetap hidup menjalani
profesinya sambil berharap suatu saat hidupnya akan lebih baik. Setidaknya ini adalah
pemikiran tokoh Ibu Mendut di novel ini. Percikan pemikiran seperti inilah yang
diperlukan oleh seluruh bangsa Indonesia yang sedang dirundung permasalahan
yang tak henti-henti. ‘Berbuat sekaligus berharap suatu saat aka nada nasib
baik’ adalah bentuk kesmpulan dari khutbah-khutbah yang hampir tiap hari
menghampiri kita.
Jurnalisme Sastrawi
Kiprah S. Jai dalam kepengarangan
bermula semenjak ia menjadi mahasiswa Fisipol di Universitas Airlangga
Surabaya. Ia telah beberapa kali terlibat dalam pementasan seni maupun teater
yang bertemakan politik seperti “Kami di Depan Republik” yang di gelar di STSI Denpasar
pada 1995 . Setelah itu ia banyak malang melintang menjadi wartawan, pemain
teater, bahkan yang terakhir adalah menjadi aktivis LSM di Surabaya.
Novel
Khutbah di Bawah Lembah tidak lain
adalah bentuk lain dari hasil risetnya
ketika ia membuat film Dokumenter tentang kehidupan buruh pabrik, perusahaan rokok,
dan cukai – film
tersebut berjudul Pita Buta – di wilayah
Jawa Timur yang tekenal memiliki banyak pabrik rokok dan mendapat kucuran bagi
hasil cukai terbesar di Indonesia. Kolaborasi antara data yang kaku dan gaya
penulisan sastra mengalir menjadikan novel ini mendekati apa yang disebut
dengan Jurnalisme sastrawi yang beberapa tahun ini merebak di jagat jurnalistik
Indonesia.
Bila
melihat dan membaca novel ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Bill Kovach
dan Tom Rosenstiel dalam bukunya Elemen-Elemen Jurnalisme (2006) “Bercerita dan informasi bukanlah hal yang
berlawanan. Mereka lebih baik dipahami sebagai dua bagian dalam sebuah
rangkaian komunikasi. Di satu ujung, barangkali, adalah cerita pengantar tidur
yang Anda ceritakan untuk anak-anak Anda yang mungkin tak punya arti selain
melewatkan waktu bersama-sama dengan akrab dan menyenangkan. Di ujung lain
adalah data mentah seperti pertandingan olahraga, buletin komunitas, atau tabel
saham yang sama sekali tak mengandung narasi.”
Lebih
lanjut Kovach dan Rosenstiel menilai bahwa jurnalisme adalah penuturan dengan
sebuah tujuan yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan khalayak untuk
memahami dunia. Setidaknya ada dua syarat untuk memenuhi Jurnalisme versi dua
tokoh tersebut, yaitu pertama adalah
menemukan informasi yang dibutuhkan khalayak. Kedua adalah membuatnya bermakna, relevan, dan enak disimak. S. Jai
berhasil menaklukkan dua tantangan ini.
Buku ini lebih
berwarna lagi karena ada satu bab dituliskannya dalam bentuk naskah drama. Dengan
demikian buku ini bisa dikatakan lebih nge
– pop jika dibandingkan dengan karya-karya terdahulunya seperti Tanah Api dan Tanha. Dan usaha tersebut
perlu diacungi dua jempol. Wallohu a’lam
bishshowab[]

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbagus ulasan resensinya, saya kira bukunya juga kemungkinan besar menarik dan relevan untuk saya baca!!
BalasHapus