Langsung ke konten utama

Semangat itu Menular: Merayakan Kemenangan-Kemenangan Kecil

“Seorang penulis atau musisi tidak hanya harus menghasilkan sesuatu yang berkualitas, mereka juga harus memastikan supaya karya mereka tidak dipenuhi debu di rak atau dalam laci”. (Paulo Coelho)


Barangkali begitu juga dengan seorang guru. Ia tidak hanya harus menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, mereka juga harus mampu memastikan bahwa anak didiknya bukanlah seonggok daging yang otaknya disesaki berbagai macam ilmu pengetahuan tetapi mati suri di masyarakat.


Sayangnya antara karya dan anak didik itu ada yang membedakan walaupun tak seluruhnya. Sebuah karya akan “hidup” sepanjang penikmatnya masih ada. Sedangkan anak didik merupakan benda hidup yang memiliki selain kontrol atas dirinya sendiri juga kontrol dari “penikmatnya”, masyarakat lingkungannya.


Di sinilah peran guru sepenuhnya diperlukan. Guru harus mampu mengombinasikan pikiran yang terus berkembang dalam diri seorang anak didik dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dimana anak didik itu tinggal. Maka disadari atau tidak di tangan-tangan gurulah sebenarnya masa depan suatu bangsa dapat diketahui arahnya.

Begitu berat tugas dan wewenang guru dalam mencipta, mengubah, maupun menjaga peradaban maka tidak heran ia mendapatkan gelar kehormatan ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. ‘Tanpa’ tidak berarti ‘tiada’ karena bisa juga kata ‘tanpa’ bermakna ‘ketidakacuhan terhadap peran sentral guru’ karena tak akan ada yang mampu membayar hasil karyanya. Sehingga muncul ‘tanpa tanda jasa’ sebagai bukti ketidakberdayaan tersebut.


Jika kemudian kata ‘guru’ diperjelas menjadi digugu lan di tiru, ditaati dan dicontoh begitu familier di masyarakat juga tak ada salahnya karena memang ia adalah seniman peradaban.
Apakah kita bisa?


Si Pemegang Timba dan Pengepel di Pagi Hari

Sisa-sisa hujan lebat semalam rupanya masih ada dan terasa. Hembusan angin masih juga menerobos dinding dan lantai rumah kayuku. Selimut semakin rapat membungkus tubuhku. Aku kedinginan.

Pukul lima pagi aku paksakan untuk bangun. Anak-anak yang ikut tidur di rumahku juga ikut bangun. Mereka segera merapikan tikar, selimut, dan bantal. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing. Gaduh lalu kembali senyap.


Aku menengok sebentar ke luar rumah. Keadaannya masih agak gelap. Pintu-pintu warga masih tertutup rapat, jalanan kampung dari hulu ke hilir juga masih sepi. Ibu-ibu yang biasanya lewat depan rumahku untuk mengambil air juga tak kutemui. Bahkan seekor anjing berwarna cokelat yang menemani selama penempatanku juga masih melingkarkan tubuhnya. Rupanya semua mahluk di desa ini merasakan hal yang sama denganku.


Sehabis ritual keagamaan ritual selanjutnya adalah menyiapkan panci untuk merebus air. Hal yang paling nikmat di pagi hari adalah menyantap sepiring mie goreng ditambah secangkir kopi pahit pekat. Apalagi cuaca pagi seperti ini sangat mendukung maka rasa kedua makanan sederhana tersebut menjadi semakin nikmat berlipat-lipat.


Aku harus cepat-cepat mandi karena hari terus beranjak siang. Sewaktu melintas di belakang rumah sekolah, sebutan untuk gedung sekolah, aku dengar suara gaduh di dalam kelas. Aku mengira anjing-anjing milik tetangga yang mencari sisa makanan. Aku mengintip dari balik kaca ternyata murid-muridku telah memegang pengepel dan di dekatnya terdapat bak berisi air deterjen. Betapa malunya aku. Jam sepagi ini mereka sudah beraktivitas. Sedangkan aku malah mulai beraktivitas.


Abdul, Karina, Lokian, dan Ester rupanya. Rumah Abdul, Karina, dan Ester terletak agak jauh dari rumah sekolah ini sedangkan Lokian tak begitu jauh. Walaupun jauh dan udara dingin mereka tidak menyurutkan langkahnya untuk terus membuat sekolah mereka menjadi bersih demi kenyamanan sewaktu kegiatan belajar mengajar nanti.


Mereka adalah anak-anak tangguh yang telah belajar bagaimana menghadapi alam dimana mereka tinggal. Jika ada orang berpikir bahwa anak pedalaman memiliki etos kerja yang rendah perlu diluruskan. Mereka adalah generasi-generasi yang telah matang dalam etos kerja. Mereka hanya perlu sedikit pemantik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memacu semangatnya. Mereka akan tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya. Kelak dibahu merekalah beban berat berupa masa depan Indonesia diletakkan. Walaupun berat aku yakin mereka akan mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat.


Tanpa harus berucap aku lanjutkan langkahku menuju Sungai Kapuas. Kulihat airnya telah menjadi kecoklatan. Aku tersenyum bahagia. Inilah kemenangan kecil kami.


Bedah Atap Rumah (4 Desember 2011)


Minggu pagi selesai bersih-bersih halaman depan dan belakang aku bermaksud untuk menanak nasi. Karena libur sekolah ritual kopi dan mie instan sementara bisa ditunda terlebih dahulu. Ketika aku menyiapkan api di dapur tiba-tiba Pak Bunjun memanggilku dari samping rumah. Ia mengajakku pergi ke hutan mencari kayu untuk membangun ruangan dapurnya.


Cihui!. Inilah kesempatan yang aku tunggu-tunggu. Setelah enam bulan hanya bisa melihat hutan dari perahu kini akhirnya ada orang yang mengajakku masuk ke hutan. Dulu aku hanya tahu aktivitas mereka dari cerita yang aku dengar kini aku bisa melihat langsung aktivitas mereka di dalam hutan yang sesungguhnya.


Badung dan Asan, pegawai Pak Bunjun, memanggul sinso (gergaji mesin) dan tempel, sebutan untuk mesin perahu. Sedangkan Dendi, anak Pak Bunjun membawa sekotak sarapan paginya.Karena belum sempat memasak maka aku bawa misting dan beberapa bungkus mie goreng instan. Siapa tahu di hutan nanti akan sampai sore. Dengan persiapan yang mantap speed sedang ukuran 15 PK segera meluncur ke hulu Sungai Kapuas.


Kami berputar-putar mencari kayu yang sudah roboh dan layak digunakan untuk rumah. Setelah berputar-putar ke hulu dan hilir Kapuas kami berhenti sedikit di atas Sungai Tahanyan, Anak Sungai Kapuas. Di tempat itu terdapat kayu tumbang seukuran kulkas. Kayu tersebut sebagian tertimbun tanah dan belum pernah ada orang yang mencoba untuk memanfaatkannya. Pak Bunjun mengamati dengan seksama kayu tersebut sebelum ia berucap “Ini saja kelihatannya bagus”.


Sesaat kemudian Badung dan Asan segera membersihkan kayu tersebut dengan patahan ranting-ranting kecil yang dibentuk seperti kemoceng. Pak Bunjun sendiri menyiapkan “alat perangnya”. Setengah hari kami habiskan waktu untuk memotong kayu. Kami dapat kayu lumayan banyak hari ini hingga haluan tengah perahu menjadi penuh. Kami siap pulang.


Tiba di sungai belakang rumah ada teman guru di sekolah yang sedang membersihkan buah nangka muda. Aku tanya “ada acara apa, Bu?” Ia menjawab bahwa rumahku sedang diperbaiki atapnya oleh penduduk. Hah! Kenapa kemarin mereka tidak bilang kalau hari ini akan membedah rumahku. Kalau tahu begini pastinya aku tidak akan ikut ke hutan mencari kayu.


Sesampai di rumah hampir semua penduduk telah berkumpul di samping rumahku. Penduduk pria sedang hilir mudik mengangkut seng, mencopot genteng kayu, memasang seng dan sebagian bergerombol sambil bercanda. Kaum ibu dan pemudi sibuk menyiapkan makan siang di dapur yang mereka dibuat seadanya. Ana-anak juga tidak mau ketinggalan. Mereka mengambil air menggunakan ken di seberang sungai.


Sebagai guru baru tidaklah elok meminta penduduk memperbaiki rumah ini karena menurutku rumah ini masih cukup nyaman setidaknya aman dari panasnya sinar matahari. Tetapi kalau lagi musim hujan rumahku ini bisa bocor dimana-mana. Aku juga kasihan jika melihat muridku yang ikut tidur di rumahku harus mencari tempat aman dari cucuran air hujan. Mungkin inilah yang menggerakkan para orang tua untuk segera memperbaiki atap rumahku.


Pukul 15.00 bedah atap rumah ini selesai. Nasi dan lauk sudah terhidang dengan megahnya. Dengan beralaskan koran kami bersantap bersama. Momen-momen seperti ini selalu terjadi tanpa ada skenario di awal. Kami bahagia.

Sebelum mereka pulang Pak Bane, tokoh masyarakat Bungan Jaya, bilang “Setelah ini Pak Guru tidak akan terkena air lagi kalau hujan turun, tidur Pak Guru akan nyaman dan pastinya kami tidak khawatir lagi kalau anak-anak ikut belajar dan tidur dengan Pak Guru”. Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada beliau dan semua wargaku.


PAUD Akhirnya Dibuka (1 Januari 2012)

Satu Januari Dua Ribu Duabelas tak ada aktifitas yang menunjukkan uforia tahun baru di Bungan Jaya. Di beberapa tempat pergantian tahun menjadi moment kembalinya manusia kepada keoptimisan. Tetapi “baru” bukanlah hal yang baru karena setiap tahun kita selalu menemukan momen yang sama, pengulangan-pengulangan masa lalu. Bukankah tak ada yang baru di bawah kolong langit? Kata seorang penyair.


Semalam kami berkumpul di rumah kepala desa. Pak Agus mengundang warga untuk sekadar silaturahim. Ia mengajak warga untuk refleksi diri.


“Bahwa ada sesuatu yang harus ditinggal dan ada seuatu yang harus diraih. Masa lalu haruslah menjadi pelajaran berharga. Ia tak akan kembali karena itulah yang membuatnya sangat berarti. Masa depan merupakan sesuatu keniscayaan walaupun masih jauh dari jangkauan. Kita tak bisa menolak masa depan apalagi kembali ke masa lalu. Mau tak mau kita harus memiliki kekuatan untuk terus menjalani semua itu.” Panjang lebar ia mengaduk pikiran kami tentang “sesuatu” di masa depan.


Selesai berefleksi doapun meluncur dari mulut kami. Pendeta Kolingong yang sedari tadi duduk tepekur di sudut ruangan memimpin dengan hikmat. Kami semua larut dalam keheningan malam. Jika di beberapa tempat pergantian tahun baru dihiasi dengan musik, kembang api, dan petasan maka di sini kami menikmati bubur ayam gurih. Detik demi detik berlalu dan tahun telah berganti.


Seperti biasa pagi hari bapak-bapak berkumpul di teras rumah Pak Kundin, ketua RT 01, sambil minum kopi. Entahlah ada saja yang dibicarakan. Tapi itulah kehidupan di sini, mengalir layaknya air Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir dari waktu ke waktu. Entah itu tahun baru atau lama menurut kami tak ada bedanya.

Pukul 10.00 aku bersiap untuk ke gereja yang letaknya di atas bukit depan rumahku. Kami akan rapat perihal pembentukan pengurus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Rapat kali ini adalah kelanjutan rapat-rapat yang pernah kami lakukan sebelumnya. Aku melangkahkan kaki dengan mantab. Aku optimis PAUD ini akan berdiri dengan kokoh di desa ini.


Kini aku berdiri di depan gereja. Rupanya mereka masih menyelesaikan Pelajaran Agama Kristen (PAK). Berkali-kali ibu-ibu menyilahkan masuk tapi aku menolak karena mereka sedang hikmat mendengarkan Pendeta Simon menerangkan pelajaran. Aku tunggu sampai selesai.


Selesai PAK aku masuk mengambil posisi di samping pendeta Simon karena posisi ini adalah posisi yang pas dan tepat untuk bisa memandang wajah para warga. Aku paparkan semua rencana-rencana yang telah aku susun bersama Pak Simon beberapa hari lalu. Aku menunggu reaksi mereka. Mereka dengan sendirinya bertukar pikiran dan aku tetap membiarkannya untuk beberapa waktu. Dari tukar pikiran tersebut kami banyak menemukan solusi-solusi alternatif dari warga.


Aku berharap bahwa berdirinya PAUD ini benar-benar dari, oleh, dan untuk warga. Sehingga mereka sekali-kali tak akan menyesal dengan apa yang mereka putuskan. Diskusi yang panjang akhirnya memutuskan dan kami sepakat untuk mendirikan PAUD. Selanjutnya PAUD akan dibuka pada awal Februari 2012. Sebagai penyelenggara sekolah kami mempercayakan kepada Albertha Sigin dan ibu Sandi sebagai wakilnya.


Diskusi selanjutnya adalah mengarah pada lembaga yang akan menaungi PAUD ini. Lembaga yang tepat untuk itu adalah Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK). Adanya lembaga ini bukan hanya menaungi PAUD tetapi bisa membawahi kesenian dan perekonomian warga. Setelah berdiskusi panjang maka Pak Asnawi tepilih menjadi ketua, sekretaris dipegang oleh Ibu Anastasya Habui, dan bendaharanya adalah Bapak Acam. Kami merasakan kelegaan yang luar biasa. Dan benar semangat itu menular kepada siapapun. Sebulan kemudian di PAUD tersebut telah memulai aktifitasnya.


Sepulang dari gereja ku sandarkan tubuh ini di kursi malas di ruang dapur. Belum sampai 30 menit aku bersandar Ester dan Agnes, murid-muridku yang lincah dan manis, mengajakku untuk berpiknik ke Sungai Tahanyan.
“Pak Guru, Bapak mengajak Pak Guru untuk piknik?” Undang Agnes dengan malu-malu.
“Benarkah? Pinik kemana?”
“Ke Tahanyan.”
“Oke. Tunggu sebentar Pak guru mengambil pancing dulu.”
“.......“ Mereka senyum-senyum menungguku di luar rumah.

Kami berangkat menggunakan dua perahu menuju Tahanyan. Ternyata Piknik ini juga diikuti keluarga Pak Sampe, saudara Pak Acam. Kami menghabiskan sepanjang siang dengan bercengkrama, menggoreng ubi, menjala ikan, membuat mie, dan tentu saja berenang bersama murid-muridku hingga sore menjelang. Kami pulang dengan membawa keceriaan kecil yang kami goreskan dalam dada.

Mungkin karena kecil itulah sesuatu bisa dipandang sebelah mata tetapi bukan berarti ia tak memiliki arti. Memang tak semua hal kecil akan berubah menjadi besar tapi dapat dipastikan segala yang besar berawal dari yang kecil. Semua itu aku temukan dalam tiap sorot mata mereka, keluarga baruku. Semangat itu semakin ada dan akan terus ada. Kami merayakan kemenangan-kemenagan kecil sambil berharap kemenangan besar itu akan segera tercipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...