Langsung ke konten utama

Tempat Berlabuhku Bernama Kapuas Hulu


:Tatkala pikiran dan perasaan mencoba memaknai hubbu...

Hubbu. Terlalu banyak hal yang membuatku menekuk lutut serta memeras otak dalam menuliskan refleksi ini. Barangkali dinginnya suasana bumi Cipayung yang telah membekukan otakku, mematungkan tangan dan imajinasiku sehingga yang keluar dalam tulisan ini merupakan kemiripan dari sebuah ke-mellow-an tak berdaya -- kata dan kalimat yang terungkap seperti “proses” pendinginan dari sebuah kekakuan.

Hubbu, terlalu indah untuk dikatakan.

'Aku' dan 'kamu' hanyalah sebutan untuk menggambarkan bahwa kita ada. Dua kata tersebut kelak akan tersusun menjadi sebuah kata yang menunjukkan jati diri 'aku' dan 'kamu' sebenarnya. Kata yang suitable itu adalah 'kita'. Kita akan saling mengisi kekosongan karena keterbatasan kita. Di batasmu ada aku dan di batasku ada kamu. Kita satu.

Hubbu, terlalu sayang untuk dicampakkan.

Masih terngiang jelas dalam ingatan kita bagaimana founding father bangsa ini bahu membahu dalam keberbedaan mereka membangun sebuah bangsa. Tak sedikitpun mereka menyinggung kata 'aku'. Seolah kata itu adalah haram untuk di ucapkan. Mungkin juga sudah tercetak haram dalam pikiran mereka. Karena mereka tahu bahwa kesendirian dan keakuan tak akan membuat bangsanya merdeka.

Ego-ego itu luruh menyatu dalam satu bangsa, satu bahasa, dan satu tumpah darah dan tertancaplah nama Indonesia.

Hari itu, bertepatan dengan 17 Mei 2011 Tuhan menancapkan nama-nama dari kita di masing-masing daerah terluar negara ini. Suka duka berselimut jadi satu. Air mata, senyuman, nyanyian seolah membahana dalam sore yang semakin memerah itu. 'Aku' dan 'kamu' masih ada jarak. Jarak itu adalah ketidakpercayaan.

Di antara 73 Pengajar Muda barangkali akulah salah satu yang belum memiliki kepercayaan untuk di tempatkan di suatu daerah pedalaman Kalimanta, Kabupaten Kapuas Hulu. Ketidakpercayaan itu muncul karena dalam ke-aku-anku tak sedikitpun menyinggung akan Kalimantan. Tapi, aku harus berulang kali membuktikan pada goresan tangan Tuhan. Aku yakin, menyitir sebuah ungkapan teman sesama PM, “logikaku ada di selain Kapuas Hulu tapi hatiku ada di sana” kemungkinan itulah rencana A-Z Tuhan yang perlu aku pelajari dan laksanakan.

Dalam “kekalahanku” sedikit demi sedikit kucoba mereduksi ketidakpercayaanku. Tak akan mudah memang tapi ini suatu keharusan untuk selalu berada dalam jalur yang ditetapkan Tuhan. Tak akan ada kegelisahan lagi di mana aku akan di tempatkan. Dengan segenap ketidakberdayaanku aku masih meyakini di manapun ada cintamu.

Aku merasa jika aku terus memikirkan 'aku' maka aku akan terpental darimu. 'Kita' tak akan pernah tercapai. Sebelum terlambat menentukan momentum, aku harus cepat-cepat kembali menemukan esensi dari keberadaan kita. Cintamu terlalu berat untuk aku tolak dan keberadaanmu terlalu riskan untuk aku abaikan.

Hubbu, terlalu misterius untuk diungkapkan

Kapuas Hulu: karena ketulusanmu aku menuju padamu
bukan eksotismu yang membawaku padamu
bukan keterbelakanganmu yang mendorongku padamu
bukan tantanganmu yang menggerakkanku padamu
tapi ketulusanmu yang mengharuskanku datang padamu.


Setahun mendatang merupakan ajang uji batas kemampuan perasaan dan pikiran kita. Setahun mendatang lembaran-lembaran putih yang berserakan antara kita menunggu untuk kita pungut dan kita isi cerita-cerita tentang kita. Barangkali di tangah respek antara kita akan berkurang namun aku sendiri yakin buku tersebut akan penuh pengalaman yang inspiratif yang mengubah aku dan kamu.

Begitulah pikiran dan perasannku ini mencoba memaknai apa itu hubbu. Dari bumi puncak ini ada setitik harapan bahwa makna itu akan kita temukan bersama. Semoga!

Komentar

  1. Ke Kapuas Hulu?

    Selamat datang dikampung halaman saya. Tepatnya dimana?

    salam kenal.

    BalasHapus
  2. aku di putussibau, lebih tepatnya ada di putussibau selatan, desa bungan jaya....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...