Langsung ke konten utama

Membaca Madura dari Serat Mortaseya


STUDI tentang Madura dalam konteksnya menghadapi modernitas begitu marak. Pelbagai buku maupun opini di surat kabar tentang hasil studi tersebut tersebar di pelosok antero negeri. Pasca jembatan Suramadu diresmikan setahun lalu, tentunya kian menjadikan pembacaan para pakar dan pemerhati Madura lebih antusias.

Hal ini mengingat dampak dibukanya Suramadu berpengaruh pada kehidupan warga masyarakat di pulau garam tersebut. Betapa Madura telah disorot bahwa dirinya sedang menghadapi gempuran baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, sangat wajar bila pembangunan jembatan ini sempat mengalami tarik-menarik alot disebabkan kekhawatiran sejumlah pihak akan adanya “perubahan” dalam arti negatif bagi masyarakat Madura.

Membaca Madura semestinya memposisikan diri dalam keutuhannya terhadap masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Membaca Madura haruslah mempertimbangkan ketiga hal tersebut dan tidak bisa saling meniadakannya. Sayangnya dalam membaca Madura, lebih cenderung hanya sekilas saja pada konteks kekinian. Itupun sudah terkontaminasi dengan stereotip negatif bahwa orang Madura dianggap bersifat keras dalam berbicara, kasar dalam bersikap dan lain-lain.

Menimbang Madura saat ini bisa ditebak arahnya senantiasa berkutat pada kerusuhan-kerusuhan etnis. Madura seolah adalah biang aktor utama setiap kerusuhan versus etnis lain. Masih tercatat peristiwa rusuh paling mutakhir Madura pun dituding biang keroknya — saat kerusuhan etnis Betawi versus Madura di daerah Tangerang.

Tanpa bermaksud menjadi pembela Madura yang membabi buta, untuk tujuan di atas, mari kita tengok bagaimana sebetulnya Madura masa klasik? Budaya klasik dapat dijadikan rujukan dalam menilai kemajuan atau kemunduran suatu masyarakat. Sama halnya dengan “budaya” modern, budaya klasik juga memiliki aktor-aktor kebudayaan. Aktor-aktor tersebut berjalinkelindan dengan alam maupun masyarakat sekitar sehingga menghasilkan suatu kebudayaan.

Semua peristiwa budaya klasik Madura itu terekam jelas dalam sebuah realitas simbolik naskah-naskah lama peninggalan leluhur mereka. Salah satu koleksi naskah yang masih tersimpan rapi di museum dan dapat dijadikan bahan studi yang kaya adalah Serat Mortaseya. Hingga kini, naskah tersebut masih dikeramatkan dan menjadi “barang hidup” oleh masyarakat Madura lewat tradisi-tradisi mamacca.

Cerita dalam Serat Mortaseya ini menjadi salah satu cerita favorit yang dibacakan di setiap ada acara di masyarakat. Dikisahkan, setelah diusir Syeh Arip, suaminya, sang istri Mortaseya segera meninggalkan desa. Ia menuju ke rumah orang tuanya. Mortaseya tidak diterima orang tuanya lantaran orangtuanya takut terkena Azab dari Allah. Lantas Mortaseya memutuskan berkelana ke hutan.

Dalam kesendiriannya tak lupa ia menjalankan ibadah. Karena waktu itu pakaiannya terkena air kencing anaknya, sementara di hutan tiada air untuk mensucikannya, maka Allah memerintahkan Jibril untuk mengganti pakaian dan menyiapkan air untuk mandi Mortaseya. Setelah mandi ia berubah lebih cantik dari sebelumnya. Kemudian Jibril memerintahkan Mortaseya kembali ke suaminya untuk memperbaiki rumah tangganya.

Menjaga Keteraturan

Membaca sepintas saja Serat Mortaseya terkesan betapa sangat kaya pelajaran-pelajaran yang bersifat relegius dalam membina rumah tangga. Diharapkan dengan membaca cerita ini masyarakat akan menghambil hikmahnya. Utamanya perihal keluarga. Barangkali keluarga pun bisa dimaknai lebih luas, tidak berhenti pada sebuah keluarga dalam rumah tangga. Bukankah negara juga sebuah keluarga bangsa?

Semua alur dan peristiwa yang terjadi di atas merupakan alur yang dipoles dengan unsur-unsur agama. Sehebat-hebat perempuan di dalam keluarga, suamilah yang menjadi nahkoda. Walaupun hanya menjadi orang kedua dalam struktur keluarga, wanita Madura memiliki nilai tawar yang tinggi dalam menetapkan keputusan-keputusan yang diambil oleh suami. Kiranya ini adalah pesan yang terdapat di dalam Serat Mortaseya yang masih menjadi tradisi pembacaan di Madura.

Sepanjang sejarah manusia keteraturan masyarakat diciptakan dengan berbagai cara. Baik yang berhubungan dengan sesama manusia dalam konteks kemasyarakatan maupun dengan alam yang menjadi tempat hidupnya. Maka tidak heran jika umumnya masyarakat Jawa menempatkan dirinya jadi satu dengan alam.

Salah satu cara untuk menciptakan keteraturan adalah dengan keteraturan ilahi. Mengutip Peter L Berger bahwa keteraturan ilahi yang tecermin dalam agama-agama menjadi pendukung dan pembenar manusia dalam mewujudkan keteraturan manusia. Maka dari itu salah satu untuk mendukung keteraturan masyarakat adalah dengan memasukkan unsur agama dalam keseharian masyarakat baik itu seni, sosial, maupun budaya. Dengan ini segala tindakan akan mendapatkan legitimasi dari agama.

Kejadian yang masih segar dalam ingatan kita adalah adanya kasus yang ditenggarai dengan istilah “penodaan” agama. Dengan menggunakan vonis “sesat” yang sesat dalam artian konteks keagamaan dengan legitimasi majelis ulama tanpa digerakkan pun mereka akan akan bereaksi dengan sendirinya. Di sinilah letak keunggulan agama dalam mengatur masyarakat.

Begitulah jejak rekam suatu masyarakat berupa formulasi pikiran, perasaan, dan kemauan individu warga masyarakat senantiasa hadir dalam bingkai teks naskah yang bagus. Rekaman-rekaman tersebut tertuang dalam wujud teks yang dihadirkan dalam beragam aksara dan bahasa bahkan perantaranya. Dengan adanya teks peristiwa-peristiwa tersebut akan lebih mudah diteropong dan dijadikan sebagai referensi kejadian saat ini maupun masa depan.

Barangkali Serat Mortaseya sekadar contoh kecil yang luarbiasa agung. Oleh karena itu menjawab pertanyaan bagaimana mustinya Madura dipertahankan budaya masyarakatnya dari benturan ekonomi, social, juga budaya, hal itu bisa ditemukan ketika membaca Madura dari sisi lain tersebut. Tentunya bakal lebih arif bila membaca Madura berdasarkan informasi lain yang berasal naskah-naskah lama yang saat ini banyak tersimpan di museum-museum tetapi jarang disentuh. Salah satunya adalah museum Mpu tantular di Sidoarjo. Bagi yang terbuka mata pengetahuannya tentu akan mengatakan, “O begitu ya Madura dulu. Tidak seperti yang kupikirkan selama ini.”.

Lagi-lagi sangatlah disayangkan studi naskah atau filologi khususnya di Surabaya bisa dikatakan mati suri. Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Salah satunya dan yang paling umum adalah studi ini masih dianggap kurang menjual bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Belum lagi studi ini mengharuskan seseorang menguasai persoalan aksara, tata bahasa, bahan naskah yang relatif sudah sangat jarang dimengerti oleh masyarakat sekarang.

Sebagai catatan akhir, tampaknya sudah saatnya kita kembali membuka peninggalan-paninggalan nenek moyang yang kaya akan ajaran-ajaran penjaga moral masyarakat. Dengan momen-momen liburan maupun darmawisata hendaknya bisa mengalihkan tujuan wisata yang lebih bermanfaat daripada harus menghabiskan jutaan rupiah sedangkan yang didapat hanya senang-senang belaka. Di sini siswa akan lebih mengetahui selanjutnya menghargai peninggalan-peninggalan lama terutama naskah sebelum naskah ini menjadi usang dan tak terjamah lagi. Wallohua’lam bishshowab.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...