Judul buku : PELAYARAN BERDARAH MENUJU GAZA: Kesaksian Langsung Relawan dan Wartawan Indonesia dari Kapal Mavi Marmara
Penulis : Dzikrullah W. Pramudya Dkk.
Penerbit : Lentera Optime Pustaka
Cetakan : Pertama, Juli 2010
Tebal : xx + 276 halaman
SEBUAH bangsa yang terus menjadi perbincangan hangat akhir abad 20 dan awal abad 21 ini bisa dikatakan dan tak lain adalah bangsa Israel. Perbincangan ini termulai dari peristiwa pembagian sebidang tanah atau Mandat Britania menjadi dua negara, yaitu Israel dan Palestina. Pembagian yang dirasa oleh bangsa Arab tidak adil menimbulkan gesekan di antara keduanya. Hingga akhirnya gesekan ini tidak hanya terbatas pada dua bangsa melainkan juga menyeret berbagai bangsa di dunia. Hal ini bisa di tandai dengan adanya penyerangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara oleh tentara Israel.
Sebenarnya jika dirunut ke belakang bukan pertama kali Israel berbuat ulah seperti yang terjadi pada kapal kemanusiaan Mavi Marmara. Bangsa Israel telah menjadi bagian cerita yang tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari sejarah dunia sebelum tahun masehi hingga saat ini. Setidak-tidaknya menjadi pangkal penceritaan bangsa Israel dimulai bersamaan dengan kisah Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim, yang juga dijuluki bapak semua agama samawi, memiliki dua istri Sarah dan Hajar. Dari istrinya yang pertama lahir Ishaq. Ishaq kemudian memiliki keturunan yang bernama Ya’qub. Dari jalur Ya’qub inilah terlahir dua belas anak yang kelak kemudian menjadi moyang bangsa Israel. Sedangkan dari istri kedua lahir Ismail yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Arab.
Pada Musim paceklik Ya’qub membawa anak-anaknya ke Mesir yang kebetulan waktu itu Mesir berada dalam berkecukupan karena telah dipersiapkan sebelumnya untuk menyambut datangnya musim paceklik. Kebetulan yang menjadi menteri di Mesir adalah Yusuf, salah satu dua belas putra Ya’qub telah hilang belasan tahun akibat dibuang oleh saudara-saudaranya hingga ditemukan oleh pedagang dari Mesir. Kemudian Ya’qub beserta putranya yang lain berpindah ke Mesir.
Keturunan Ya’qub di negeri yang baru ini berkembang menjadi bangsa yang besar. Fir’aun yang baru (pengganti Fir’aun yang lama) - setiap raja yang memimpun mesir mendapat julukan Fir’aun - mempekerjakan mereka seperti budak untuk membangun piramid-piramid dan tempat-tempat pemujaan. Fir’aun sendiri khawatir akan keadaan yang demikian terlebih adanya mimpi yang menggambarrkan bahwa kelak akan ada seorang anak lelaki yang menggulingkan pemerintahannya. Karena saking takutnya maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang terlahir dari rahim bangsa Israel.
Kehidupan bangsa Israel di Mesir sangatlah menderita terlebih adanya kebijakan Fir’aun yang baru. Suatu saat Musa datang dan meyelamatkannya dan membawanya ke tanah harapan. Hingga bangsa Israel mencapai puncak kejayaannya pada masa kerajaan Nabi Daud dan diteruskan putranya, Sulaiman. Pasca Sulaiman bangsa Israel kembali menjadi orang papa dan kemlai tersebar di seluruh dunia – termasuk cerai-beraikan oleh Nebukadnezar dari Babilonia 586 SM. Kini dengan modal yang dimiliki termasuk tanah (yang dianggap tanah harapan) dan sumber daya yang mumpuni bangsa Israel melakukan berbagai usaha untuk mengembalikan kejayaan yang hilang di masa lalu.
Kekejaman Israel terhadap bangsa Palestina di Gaza semakin menjadi dengan memblokade Palestina dari dunia luar. Akibat blokade yang diterapkan Israel rakyat Palestina mengalami kesengsaraan yang berlebih selama empat tahun terakhir. Sehingga yang terjadi penduduk Gaza kesulitan dalam mengakses bahan makanan, obat-obatan, dan juga pendidikan. Walaupun ada bantuan yang boleh masuk ke wilayah Palestina itupun tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rakyat Palestina dan sangat tidak adil. Ketika musim dingin Israel tidak membolehkan selimut masuk sedangkan pada musim panas baru diperbolehkan masuk. Pun begitu dengan datangnya tahun ajaran baru peralatan tulis juga tidak dapat masuk (hal. 156).
Ulah yang demikian oleh Israel terhadap Palestina seolah angin lalu oleh bangsa-bangsa Arab. Bangsa Arab sendiri seperti ketakutan untuk melawan Israel bahkan hanya sekadar memperingatkan. Ini terbukti dengan adanya larangan dari pemerintah otoritas Palestina kepada “kapal-kapal pembebasan blokade” untuk mencapai Jalur Gaza. Juga menurut berita yang beredar sebelum keberangkatan “Kepal Pembebasan Untuk Palestina” otoritas Palestina juga telah mengirim sejumlah surat ke negara-negara Arab termasuk Turki untuk tidak mengizinkan kapal-kapal ini melaut ke Jalur Gaza (hal. 12).
Tidak mengherankan memang karena masih adanya trauma masa lalu yang dialami bangsa-bangsa Arab akibat kekalahan yang dideritanya dari Israel. Perang pertama antara Israel dengan bangsa Arab yang terjadi pada tahun 1948 sehari Israel memproklamirkan diri menjadi sebuah negara. Perang tersebut dimenangkan oleh Israel. Dalam perang tersebut juga mengakibatkan 70 persen wilayang Mandat Britania jatuh ke tangan Israel. Kekalahan yang membuat bangsa Arab semakin ciut nyalinya adalah kekalahan telak dari Israel pada tahun 1967. Peperangn ini dikenal dengan Perang Enam hari ini mengukuhkan Israel sebagai “penguasa” Arab dimana wilayah-wilayah di luarnya jatuh ke pangkuan Israel seperti seluruh tanah Palestina, Semenanjung Sinai Mesir, dan Dataran Tinggi Golan milik Syiria.
Melihat penderitaan panduduk Gaza yang demikian dan tiadanya usaha negara tetangga di semenanjunag Arabia, bangsa-bangsa di dunia tergerak untuk segera membebaskan Palestina di Gaza. Setidaknya tergambar dari beberapa lembaga kemanusiaan yang ikut dalam pelayaran Mavi Marmara menuju Gaza. Dalam pelayaran ini turut serta orang-orang selain muslim yang terdiri berbagai Negara dan agama. Bisa dikatakan bahwa pelayaran ini tidak sekedar dari alasan agama, tepi lebih dari itu menyelamatkan manusia dari penjajahan fisik dan psikis yang terjadi selama bertahun-tahun.
Pelayaran dengan membawa misi kemanusiaan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Kapal yang hanya membawa makanan, obat-obatan, bahan bangunan rumah sakit serta peralatan pendidikan ini menjadi sasaran empuk Israel yang notabene telah menyiapkan diri layaknya peperangan besar, berperalatan lengkap dan modern. Sedangkan manusia yang berada di kapal Mavi Marmara adalah kebalikannya. Tetapi pihak Israel tetap pada pendiriannya bahwa kapal kemanusiaan tersebut dapat mengancam keselamatan dan kedaulatan bangsa Israel. Setidaknya ini terungkap dari percakapan antara Surya Fachrizal, salah satu korban kebrutalan tentara Israel, dengan tentara Israel, “Dunia menuduh kami membunuh anak-anak padahal kami mengincar teroris. Hanya saja para teroris itu pengecut, bersembunyi di balik perempuan dan anak-anak. Jadi kalau kamu bilang kapal itu (Mavi Marmara) kapal perdamaian, think again…” (hal. 118-119).
Bukankah itu sebuah ketakutan yang berlebihan dari tentara Israel? Ditilik dari kejadian di kapal Mawi Marmara memang bangsa Israel seperti mempunyai ketakutan yang berlebihan. Bahkan terhadap bayi-bayi Palestina yang masih belum tau apa-apa. Tak dapat dipungkiri sejarah telah membentuk mental dan watak mereka menjadi demikian. Inikah bentuk dendam mereka akibat sejarah yang tidak memihak mereka? Wallohua’lam bishshowab[]
Surabaya post, 19 September 2010
Penulis : Dzikrullah W. Pramudya Dkk.
Penerbit : Lentera Optime Pustaka
Cetakan : Pertama, Juli 2010
Tebal : xx + 276 halaman
SEBUAH bangsa yang terus menjadi perbincangan hangat akhir abad 20 dan awal abad 21 ini bisa dikatakan dan tak lain adalah bangsa Israel. Perbincangan ini termulai dari peristiwa pembagian sebidang tanah atau Mandat Britania menjadi dua negara, yaitu Israel dan Palestina. Pembagian yang dirasa oleh bangsa Arab tidak adil menimbulkan gesekan di antara keduanya. Hingga akhirnya gesekan ini tidak hanya terbatas pada dua bangsa melainkan juga menyeret berbagai bangsa di dunia. Hal ini bisa di tandai dengan adanya penyerangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara oleh tentara Israel.
Sebenarnya jika dirunut ke belakang bukan pertama kali Israel berbuat ulah seperti yang terjadi pada kapal kemanusiaan Mavi Marmara. Bangsa Israel telah menjadi bagian cerita yang tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari sejarah dunia sebelum tahun masehi hingga saat ini. Setidak-tidaknya menjadi pangkal penceritaan bangsa Israel dimulai bersamaan dengan kisah Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim, yang juga dijuluki bapak semua agama samawi, memiliki dua istri Sarah dan Hajar. Dari istrinya yang pertama lahir Ishaq. Ishaq kemudian memiliki keturunan yang bernama Ya’qub. Dari jalur Ya’qub inilah terlahir dua belas anak yang kelak kemudian menjadi moyang bangsa Israel. Sedangkan dari istri kedua lahir Ismail yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Arab.
Pada Musim paceklik Ya’qub membawa anak-anaknya ke Mesir yang kebetulan waktu itu Mesir berada dalam berkecukupan karena telah dipersiapkan sebelumnya untuk menyambut datangnya musim paceklik. Kebetulan yang menjadi menteri di Mesir adalah Yusuf, salah satu dua belas putra Ya’qub telah hilang belasan tahun akibat dibuang oleh saudara-saudaranya hingga ditemukan oleh pedagang dari Mesir. Kemudian Ya’qub beserta putranya yang lain berpindah ke Mesir.
Keturunan Ya’qub di negeri yang baru ini berkembang menjadi bangsa yang besar. Fir’aun yang baru (pengganti Fir’aun yang lama) - setiap raja yang memimpun mesir mendapat julukan Fir’aun - mempekerjakan mereka seperti budak untuk membangun piramid-piramid dan tempat-tempat pemujaan. Fir’aun sendiri khawatir akan keadaan yang demikian terlebih adanya mimpi yang menggambarrkan bahwa kelak akan ada seorang anak lelaki yang menggulingkan pemerintahannya. Karena saking takutnya maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang terlahir dari rahim bangsa Israel.
Kehidupan bangsa Israel di Mesir sangatlah menderita terlebih adanya kebijakan Fir’aun yang baru. Suatu saat Musa datang dan meyelamatkannya dan membawanya ke tanah harapan. Hingga bangsa Israel mencapai puncak kejayaannya pada masa kerajaan Nabi Daud dan diteruskan putranya, Sulaiman. Pasca Sulaiman bangsa Israel kembali menjadi orang papa dan kemlai tersebar di seluruh dunia – termasuk cerai-beraikan oleh Nebukadnezar dari Babilonia 586 SM. Kini dengan modal yang dimiliki termasuk tanah (yang dianggap tanah harapan) dan sumber daya yang mumpuni bangsa Israel melakukan berbagai usaha untuk mengembalikan kejayaan yang hilang di masa lalu.
Kekejaman Israel terhadap bangsa Palestina di Gaza semakin menjadi dengan memblokade Palestina dari dunia luar. Akibat blokade yang diterapkan Israel rakyat Palestina mengalami kesengsaraan yang berlebih selama empat tahun terakhir. Sehingga yang terjadi penduduk Gaza kesulitan dalam mengakses bahan makanan, obat-obatan, dan juga pendidikan. Walaupun ada bantuan yang boleh masuk ke wilayah Palestina itupun tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rakyat Palestina dan sangat tidak adil. Ketika musim dingin Israel tidak membolehkan selimut masuk sedangkan pada musim panas baru diperbolehkan masuk. Pun begitu dengan datangnya tahun ajaran baru peralatan tulis juga tidak dapat masuk (hal. 156).
Ulah yang demikian oleh Israel terhadap Palestina seolah angin lalu oleh bangsa-bangsa Arab. Bangsa Arab sendiri seperti ketakutan untuk melawan Israel bahkan hanya sekadar memperingatkan. Ini terbukti dengan adanya larangan dari pemerintah otoritas Palestina kepada “kapal-kapal pembebasan blokade” untuk mencapai Jalur Gaza. Juga menurut berita yang beredar sebelum keberangkatan “Kepal Pembebasan Untuk Palestina” otoritas Palestina juga telah mengirim sejumlah surat ke negara-negara Arab termasuk Turki untuk tidak mengizinkan kapal-kapal ini melaut ke Jalur Gaza (hal. 12).
Tidak mengherankan memang karena masih adanya trauma masa lalu yang dialami bangsa-bangsa Arab akibat kekalahan yang dideritanya dari Israel. Perang pertama antara Israel dengan bangsa Arab yang terjadi pada tahun 1948 sehari Israel memproklamirkan diri menjadi sebuah negara. Perang tersebut dimenangkan oleh Israel. Dalam perang tersebut juga mengakibatkan 70 persen wilayang Mandat Britania jatuh ke tangan Israel. Kekalahan yang membuat bangsa Arab semakin ciut nyalinya adalah kekalahan telak dari Israel pada tahun 1967. Peperangn ini dikenal dengan Perang Enam hari ini mengukuhkan Israel sebagai “penguasa” Arab dimana wilayah-wilayah di luarnya jatuh ke pangkuan Israel seperti seluruh tanah Palestina, Semenanjung Sinai Mesir, dan Dataran Tinggi Golan milik Syiria.
Melihat penderitaan panduduk Gaza yang demikian dan tiadanya usaha negara tetangga di semenanjunag Arabia, bangsa-bangsa di dunia tergerak untuk segera membebaskan Palestina di Gaza. Setidaknya tergambar dari beberapa lembaga kemanusiaan yang ikut dalam pelayaran Mavi Marmara menuju Gaza. Dalam pelayaran ini turut serta orang-orang selain muslim yang terdiri berbagai Negara dan agama. Bisa dikatakan bahwa pelayaran ini tidak sekedar dari alasan agama, tepi lebih dari itu menyelamatkan manusia dari penjajahan fisik dan psikis yang terjadi selama bertahun-tahun.
Pelayaran dengan membawa misi kemanusiaan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Kapal yang hanya membawa makanan, obat-obatan, bahan bangunan rumah sakit serta peralatan pendidikan ini menjadi sasaran empuk Israel yang notabene telah menyiapkan diri layaknya peperangan besar, berperalatan lengkap dan modern. Sedangkan manusia yang berada di kapal Mavi Marmara adalah kebalikannya. Tetapi pihak Israel tetap pada pendiriannya bahwa kapal kemanusiaan tersebut dapat mengancam keselamatan dan kedaulatan bangsa Israel. Setidaknya ini terungkap dari percakapan antara Surya Fachrizal, salah satu korban kebrutalan tentara Israel, dengan tentara Israel, “Dunia menuduh kami membunuh anak-anak padahal kami mengincar teroris. Hanya saja para teroris itu pengecut, bersembunyi di balik perempuan dan anak-anak. Jadi kalau kamu bilang kapal itu (Mavi Marmara) kapal perdamaian, think again…” (hal. 118-119).
Bukankah itu sebuah ketakutan yang berlebihan dari tentara Israel? Ditilik dari kejadian di kapal Mawi Marmara memang bangsa Israel seperti mempunyai ketakutan yang berlebihan. Bahkan terhadap bayi-bayi Palestina yang masih belum tau apa-apa. Tak dapat dipungkiri sejarah telah membentuk mental dan watak mereka menjadi demikian. Inikah bentuk dendam mereka akibat sejarah yang tidak memihak mereka? Wallohua’lam bishshowab[]
Surabaya post, 19 September 2010
Komentar
Posting Komentar