Langsung ke konten utama

laporan perjalanan "Sumenep Aku Datang"

Sehabis dari Madura badanku remuk semua. Mulai jam 06.30 ampe jam 19 terus berada di atas sepeda motor. Lagian jalan di Madura kayaknya perlu diperlebar biar lebih nyaman berkendaraannya. Satu lagi perlu diperbaiki lubang-lubangnya.
Ada kejadian unik waktu berada di rumah sakit umum daerah Pamekasan. Di tempat parkiran yang jaga adalah para PNS (Pegawai Negeri Sialan). Seharusnya bukan tempatnya seorang pegawai negeri hanya mengurusi parkiran motor. Bukan hanya satu orang melainkan tujuh orang. Betapa sakitnya bangsa ini.
Apa tidak ada tempat yang lebih strategis lagi buat tenaga mereka. Padahal kalau untuk tempat parkir bisa memanfaatkan tenaga lain selain PNS. Jika tidak ada tempat lagi kenapa tiap tahun harus membuka lowongan tenaga PNS? Ini yang harus menjadi renungan kita bersama!
Hal Ini sangat beda dengan kejadian di RSUD Sumenep. Di sana tenaga parkirnya adalah orang luar selain PNS. Dengan ini biaya pengeluaran pemerintah bisa ditekan dan juga menyelamatkan orang dari pengangguran. Bayangkan bila yang menjadi tukang parkir adalah “pengangguran”berstatus PNS?
Tepat jam 12 siang sampai juga aku di museum kerajaan Sumenep (Sumekar). Baru kali ini aku ada kesempatan waktu dan biaya untuk mengunjungi salah satu peninggalan bersejarah bangsa ini. Dari luar sudah kelihatan meganya kerajaan ini dahulu.
Selain untuk bersenang-senang dan napak tilas perjuangan para raja Sumenep, kedatanganku juga untuk melihat simpanan naskah karya pujangga kerajaan ini. Waktu ku tanya kepada patugas tentang catalog naskah mereka bilang bahwa yang memegang catalog sedang ada pelatihan dan katalognya juga di bawa. Bagaimana bisa katalog yang seharusnya menjadi pedoman pengunjung juga tidak ada? Mohon kepada petugas bisa menggandakan catalog biar bisa dinikmati oleh pengunjung.
Waktu asyik memotret peninggalan-peninggalan berharga (guci, kursi, koleksi alQuran) tiba-tiba Aku dikejutkan oleh beberapa anak kecil yang naik ke kereta peninggalan Arya Wiraraja. Lho padahal di tempat kursi kereta terdapat DON’T TOUCH. Pegang saja tidak boleh apalagi menaikinya. Petugas museum dan orang tua membiarkan saja kejadian ini. Kalau seperti ini kereta ini bakalan tidak akan bertahan lama. Kasihan anak cucu kita nantinya.
Waktu di museum habis kami diantar untuk memasuki keraton. Waktu berjalan beberapa langkah memasuki gerbang Aku dikejutkan oleh pemandangan yang seharusnya tidak pernah ada dan tidak pernah Aku inginkan ada. Kereta kuda peniggalan raja, yang mirip disimpan di museum, ternyata dibiarkan kepanasan dan kehujanan. Bagaiamana keadaan kereta ini sepuluh atau 20 tahun lagi?
Hal yang yang membutku tertawa sendiri adalah ketika kutanyakan tempat penyimpanan naskah kerajaan Sumenep kepada petugas pengantar “naskahnya tinggal sejarah saja, dan pendopo ini adalah warisan arsitektur cina”. Kalimat ini aku dengar berulang-ulang walaupun yang kutanya bukan lagi tempat penyimpanan naskah kerajaan.
Petugas telah melaksanakan tugasnya selama 13 tahun. Bukanlah waktu yang sedikit. Mungkin ia adalah “kaset” yang telah terekam kalimat demi kalimat yang bunyinya sama. Walaupun di putar di tape apa saja bunyinya tetap sama. Dan yang membuat aku semakin geli adalah ia telah berpakaian PNS. Menyedihkan sekali. Bagaimana dengan tes-tes waktu penerimaan dulu? Sungguh seperti inikah potret PEGAWAI NEGARA KITA YANG DIBAYAR DENGAN KERINGAT KITA, KELUARGA KITA, AYAH KITA?
To be continued….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pendekatan kemiskinan

Ada banyak teori tentang kemiskinan, namun menurut Michael Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu kelompok teori yang tidak memihak (middle ground), yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu (behavioral), teori yang mengarah pada struktur social, dan yang satu teori mengenai budaya miskin. Menurutnya Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia (human capital). Teori ini disajikan dalam teori ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.  Teori...

Sejarah Terbentuknya Remaja Mushola Al Jadid Bintang Sembilan

Berdiri 27 Februari 2009 Pada malam akhir tahun 2008 kami mengobrol ringan dengan beberapa teman satu desa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, santri, santri, pegawai dan ada pula yang masih duduk di SMA. Obrolan ringan tersebut lebih sering kami lakukan di warung kopi yang keberadaannya sudah semacam cendawan di musim hujan. Namanya cangkrukan , obrolan ini bisa menyangkut negara, pendidikan, pekerjaan hingga politik (kecil-kecilan). Tapi, yang sering kali menjadi topik pembicaraan adalah sekitar kegiatan remaja di desa kami. Karena saya lebih banyak di Surabaya, jadi mereka yang lebih tahu mengenai perkembangan desa. Satu hal yang saya tangkap dari obrolan kami adalah mereka menginginkan suatu wadah, ya semacam organisasi yang bisa menampung ide-ide mereka. Diskusi ini terus berlanjut akhirnya saya mengusulkan bagaimana kalau membentuk remaja mushola (Remush) yang kebetulan mushola kami juga belum memiliki wadah bagi para remajanya. Mereka sepakat asal...

Istana Potala ala SD Atas Awan

“beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak” soetardji calzoum bachri “Imam, bocah kecil kelas 4 SD Atas Awan, terlahir dari seorang ibu yang saleh di kaki perbukitan pegunungan Bogor. Ia pandai bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi pemain bola terkenal. Cristian Gonzales adalah pemain favoritnya. Kelak ia ingin membela Indonesia di kancah internasional”. Sejenak kita sampingkan terdahulu cerita di atas. Kita flashback sebentar ke belakang. Kita masih bisa tertawa lepas tatkala mesin-mesin itu hampir melepaskan nyawa dari raga. Kita malah semakin tenggelam dalam gegap gempita fantasi ketika tubuh-tubuh kita mulai menunjukkan reaksi. Mesin dan hati seolah sama sehingga kita kaku melihat kenyataan masyarakat kita sendiri. Tak ada yang salah bila kita meluapkan kegembiraan itu. Dengan bahasa sederhana kita memerlukan peremajaan tubuh setelah sekian lama kita mencecap “penyadaran-penyadaran” akan arti sebuah masa depan. Masa di mana anak cucu kita melemparkan senyum dengan jujur dan...